1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Budidaya ikan air laut merupakan sektor perikanan yang sangat
penting untuk dikembangkan dalam rangka penyediaan protein untuk
peningkatan gizi masyarakat, mencerdaskan bangsa dan menciptakan
lapangan kerja, (Patasik, 2005). Salah satu komoditas air laut yang memiliki
potensi untuk dibudidayakan adalah ikan kerapu Tikus.
Dengan garis pantai terpanjang di dunia yaitu 81.000 km dan luas
laut yang mencapai 5,8 juta km2, menjadikan Indonesia memiliki potensi
yang sangat besar dalam sumberdaya kelautan, terutama sektor perikanan.
Salah satu komoditi laut yang potensial untuk dikembangkan di indonesia
adalah Ikan Kerapu (coral reef fishes).
Ikan Kerapu merupakan ikan laut yang hidup di terumbu karang dan
memiliki harga jual yang relatif tinggi yaitu mencapai US$ 20 (Rp 200.000,-)
untuk setiap kilogramnya. Tingginya harga jual tersebut menyebabkan
eksploitasi sumberdaya kerapu yang tidak terkendali serta membahayakan
ekosistem perairan khususnya terumbu karang. Untuk menghindarkan
terjadinya kepunahan terhadap populasi ikan kerapu di alam, maka upaya
mengalihkan usaha penangkapan ke usaha budidaya kerapu di air payau
merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan.
Salah satu komoditas perikanan yaitu Ikan Kerapu umumnya
dikenal dengan istilah “groupers” dan merupakan salah satu komoditas
perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun padar
internasional dan selain itu nilai jualnya cukup tinggi. Eksport ikan kerapu
melaju pesat sebesar 4.800 ton pada tahun 2006 dengan nilai 31,7 US Dollar
(Sudirman dan Karim, 2008).
Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk
dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal
untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.
2
Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera
konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah
mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu
melalui usaha budidaya.
Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di
Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala,
karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih
mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993
ikan kerapu macan sudah dapat dibenihkan melalui pembenihan buatan
manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon.
1.2 . Tujuan dan Kegunaan
Kegiatan PKPM ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
teknik pembenihan Ikan Kerapu macan dengan cara terjun langsung di
lapangan agar dapat menghasilkan benih yang unggul dan berkualitas. Serta
dapat membandingkan antara hasil yang didapatkan di lapangan dengan teori
yang didapatkan sebelumnya.
Sedangkan Kegunaan dari kegiatan yang akan dilakukan dalam
PKPM ini adalah dapat menambah wawasan dan sebagai bahan informasi
serta acuan dalam usaha pembenihan Ikan Kerapu Tikus. Dimana kedepannya,
pengetahuan yang didapatkan tersebut dapat dijadikan motivasi untuk
melakukan usaha pembenihan ikan kerapu Tikus sendiri, agar kedepannya
dapat bermunculan wirausahawan yang terampil dan bergelut dalam usaha
pembenihan ikan kerapu Tikus tersebut.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Taksonomi dan Morfologi
A. Taksonomi
Diperkirakan terdapat lebih dari 46 spesies ikan kerapu yang hidup
di laut. Spesies- spesies tersebut berasal dari 7 genus yang berbeda, salah satu
spesies yang terkenal adalah ikan kerapu tikus (Chromileptes altivelis).
Menurut Heemstra and Ramdal, (1993) Ikan kerapu tikus C. digolongkan pada
:
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Percomorphi
Famili : Serranidae
Genus : Cromileptes
Spesies : Cromileptes altivelis
B. Morfologi
Sedangkan Menurut akbar (2009), Ikan kerapu tikus adalah jenis
ikan karang yang hanya hidup dan tumbuh cepat di daerah tropis, Ciri khasnya
terletak pada bentuk moncong yang menyerupai bebek sehingga disebut kerapu
bebek. Sisik dan sirip kerapu berbentuk bulat. Bagian punggunnya meninggi
dan cembung. Tebal tubuh ikan yang habitat aslinya di sela-sela karang laut ini
2,6-3,0 inci Standar (SL). Ciri-ciri lainnya adalah tidak mempunyai gigi taring
(canine), lubang hidung besar berbentuk bulat sabit vertikal, warna kulit abuabu
terang kehijauan dengan bintik-bintik hitam, moncongnya mirip kepala
bebek, kerapu ini sering di sebut dengan kerapu tikus.
Menurut akbar (2002) menyebutkan bentuk tubuh bagian punggung
meninggi dengan bentuk cembung (Concaver). Ketebalan tubuh sekitar 6,6 –
7,6 cm dari panjang spesifik sedangkan panjang tubuh maksimal sampai 70 cm.
Ikan ini tidak mempunyai gigi canine (gigi yang terdapat dalam geraham ikan)
4
lubang hidung hidung besar berbentuk bulan sabit dertical, kulit berwarna
terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan
dan sirip. Pada kerapu bebek muda, bintik hitamnya lebih besar dan sedikit.
Kerapu tikus mempunyai sisik berbentuk sikloid, deskripsi sirip
punggung (dorsal fin) X, 17-18. Sirip dubur (anal fin) III, 10, sirip dada
(fectoral fin) 17-18, sirip ekor membulat, sisik garis linea lateralis 53-55,
bagian dorsal meninggi berbentuk concave (cembung), lubang hidung besar
berbentuk bulat sabit vertikal, warna kulit terang abu-abu kehijauan dengan
bintik-bintik hitam disekitar kepala, badan dan sirip. Ridwan dan Jayadi.
(2009). Gambar 1
Gambar 1. Ikan kerapu tikus C.
2.2 Habitat dan Penyebaran
Gitari (1995), dalam siklus hidup ikan kerapu tikus, ikan ini adalah
ikan yang mudah hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5 – 3 meter,
setelah menginjak dewasa keperairan yang lebih dalam antara 7 – 40 meter.
Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu mudah hingga dewasa
bersifat demersal. Sedangkan Tampubolon dan Mulyadi (1989), menyatakan
habitat larva dan kerapu muda adalah perairan pantai dekat muara sungai
dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Salah
satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Ikan kerapu memiliki
toleransi yang cukup tinggi terhadap lingkungan karena dapat di budidayakan
5
pada lingkungan tambak dengan pertumbuhan yang relatif cepat (Anindiastuti
dkk.,1999)
Katayama (dalam Utami, 1997) penyebaran ikan kerapu tikus
meliputi perairan laut merah sampai perairan Filifina, tahiti, kepulauan
Okawa, dan Perairan Jepang Selatan. Sedangkan menurut Tanin dkk (1987),
penyebaran ikan kerapu meliputi daerah tropis dan sub tropis. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa di indonesia ikan kerapu banyak di temukan di perairan
pulau sumatra, jawa, sulawesi. Pulau buruh dan ambon.
Salah satu indicator adanya ikan Kerapu adalah perairan karang,
sehingga Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas, yang
menunjukkan potensi sumber daya dan pengembangan Kerapu sangat besar
(Sudirman dan Karim, 2008).
2.3 Cara Makan dan Jenis Makanan
Ikan kerapu tikus C. merupakan hewan karnivora yang memangsa
ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. ikan kerapu tikus C. bersifat
karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam
kolam air (Nybakken, 1988 Cit. Anonim, 2001). Kerapu tikus juga cenderung
bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis ikan
kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil
(cholik, dkk 2005).
Ikan kerapu tikus C. mencari makan hingga menyergap mangsa dari
tempat persembunyiannya (Anonim,2001) dengan cara memakan satu per satu
makanan yang diberikan sebelum makanan tersebut sampai ke dasar (Anonim,
1996 ).
6
2.4. Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi untuk budidaya ikan ini memegang peranan yang
santa penting. Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan
usaha dan target produksi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk
budidaya ikan kerapu adalah faktor resiko seperti keadaan angin dan
gelombang, kedalaman perairan, bebas dari bahan pencemar, tidak
mengganggu alur pelayaran.
Faktor kenyamanan seperti dekat dengan prasarana perhubungan
darat, pelelangan ikan (sumber pakan), dan pemasok sarana dan prasarana yang
diperlukan (listrik, telepon), dan faktor hidrografi seperti selain harus jernih,
bebas dari bahan pencemaran dan bebas dari arus balik, dan perairannya harus
memiliki sifat fisik dan kimia tertentu (kadar garam, oksigen terlarut).
2.5 Pemeliharaan Induk
Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan
apung dengan padat penebaran induk 7,5 – 10 kg/m3. Pakan yang diberikan
berupaikan rucah segar berkadar lemak rendah. Diluar pemijahan ikan, dosis
pakan yang diberikan sebesar 3 – 5% dari total berat badan ikan/hari,
sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu
diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 – 15 mg/ekor/minggu.
2.6 Sex Reversal
Kerapu termasuk ikan yang “hermaprodit protogyni”, yaitu pada
kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. Sel kelamin betina
terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Sel
kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan
panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Ada kenyataannya lebih banyak
ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke
jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron.
7
Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan
setiap minggu, diikuti dengan penambahan multivitamin.
Dosis yang diberikan adalah :
• Hormon testosteron 2 mg/kg induk
• Multivitamin 10 mg/kg induk
2.7 Seleksi Induk
Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara
mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar
warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan
kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara
kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan,
kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat
kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron.
2.8 Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad
Ikan kerapu tikus ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap
perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina
kemudian berubah menjadi jantansetelah tumbuh besar /umurnya bertambah
tua. Menentukan jenis kelamin jatan dan betina dapat di lakukan dengan dua
cara yaitu menggunakan selang mikro (kanulasi) dan menggunakan metode
pengurutan.
Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat
hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran
(Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003). Di habitat
aslinya, kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni antara pukul 8
malam hingga 3 pagi. Biasanya, kerapu jantan akan berenang berputar-putar
mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya,
kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya kemudian telur akan di buah
oleh sperma. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat
8
hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran
(Smith. 1982).
2.9 Perkembangan dan Pemeliharaan Larva
1) Perkembangan Larva
Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang
dan gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva
akan berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari.
Gambar 2.
Gambar 2. Perkembangan Bentuk Larva Ikan Kerapu
Adapun perkembangan larva kerapu dari umur 1 hari (D1) sampai umur 31
hari (D31) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan larva ikan kerapu.
Hari ke Tahap Perkembangan Panjang (mm)
D1 Larva baru menetas transparan, melayang dan tidak aktif. 1,89 – 2,11
D3 Timbul bintik hitam di kepala dan pangkal perut. 2,14 – 2,44
9
D7-8 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 7,98 – 8,96
D9-11 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 15,88 – 17,24
D15-17 Duri memutih, bagian ujung agak kehitaman. 17,2 – 18,6
D23-26 Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, pada bagian
ujung tumbuh sirip awal lunak.
20,31 – 22,64
D29-31 Sebagian larva yang pertumbuhannya capat telah berubah
menjadi burayak (juvenil), bentuk dan warnanya telah
menyerupai ikan dewasa.
22,40 – 23,42
Masa kritis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8)
memasuki umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan
bentuk tubuhyang sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20)
larva berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda
kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari larva
baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya
kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak
terkendali kemudian terbalik lalu mati.
Pada kasus tersebut diupayakan dengan cara merubah pakan Artemia
dengan kandungan W3 HUFA yang lebih tingi. Dari kasus ini tentunya dapat
diajukan suatu hepotesa sementara bahwa kurannya unsur tertentu pada larva
kerapu dalam waktu yang cukup lama akan mempengaruhi kondisi fisik dan
kelangsungan hidup larva.
2) Pemeliharaan Larva
Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan
berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2)
setelahmenetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari
luar.
Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera
diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1
– 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp
10
dengan kepadatan antara 5.10 – 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva
berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai
kepadatan 5 – 10 ekor/ml plytoplankton 10 – 2.10 sel/ml media.
Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang
baru menetas dengan kepadatan 0,25 – 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan
naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan
peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 – 5 ekor/ml media.
Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi
pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan
yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa
dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari. Pemberian pakan dengan
cincangan daging ikan mulai dicoba pada saat metamorfosa larva sempurna
menjadi benih ikan kerapu.
2.10 Pengelolaan Kualitas Air
Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan
larva perlu dijaga kualitas airnya dengan penambahan phytoplankton Chlorella,
dengankepadatan 5.103 – 104 sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir
pembusukkan yang ditimbulkan oleh telur yang tidak menetas dan sisa
cangkang telur yang ditinggalkan. Pembersihan dasar bak dengan cara
penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang
sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air
dilaksanakan pertama kali pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak
5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur
larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak. Pada saat
larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan
bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%.
11
2.11 Hama dan Penyakit
Hama
Menurut Kordi, (2002) mengatakan bahwa hama merupakan
organisme yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan budidaya di dalam
kolam hama pada budidaya ikan kerapu C. ada 2 macam yaitu : predator dan
kompetitor.
Penyakit
Penyakit yang sering di menyerang ikan kerapu ada dua macam
yaitu penyakit infeksi, penyakit yang dapat menginfeksi ikan kerapu yaitu
berupa jamur, bakteri maupun virus. Sedangkan yang ke dua yaitu penyakit
non infeksi adalah penyakit pada ikan kerapu yang di sebabkan oleh ketidak
sesuaian media pemeliharaan ikan kerapu yang ada di tambak dengan kondisi
aslinya di alam sehingga menyabakan ikan kerapu tersebut stress.
12
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) ini, akan
dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar. Kegiatan tersebut
akan dilaksanakan dari bulan Maret – Juni 2011.
3.2. Metode Pengumpulan data
Metode pengambilan data yang digunakan dalam Kegiatan
Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) yang akan dilaksanakan yaitu
dengan cara pengumpulan data berupa :
1. Data primer yaitu diperoleh dengan cara melaksanakan dan mengikuti
kegiatan Teknik Pembenihan Kerapu Macan secara langsung serta ikut
berperan aktif di lapangan.
2. Data sekunder yaitu diperoleh melalui studi pustaka dengan cara
mengumpulkan data dari berbagai literatur dan melakukan wawancara
dengan pembimbing dan teknisi lapangan.
3.3. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif yang
bersumber pada data primer dan data sekunder yang didapatkan selama
kegiatan PKPM berlangsung dan disajikan dalam bentuk tabel.
3.4. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada pembenihan Kerapu tikus D. di Balai
Besar Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar dapat dilihat pada Tabel 2,
sedangkan bahan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.
13
Tabel 2. Alat untuk Pembenihan Ikan Kerapu Macan
No Alat Jumlah Kegunaan
1 Baskom plastic 10 buah Grading
2 Pisau 2 buah Memotong- motong pakan
induk
3 Ember 10 buah Menampung pakan alami
4 Gayung 5 buah Mengambil pakan
5 Timbangan 2 buah Menimbang pakan, kaporit dan
berat induk
6 Selang spiral 3 buah Mengalirkan air laut dan tawar
7 Filter bag 5 buah Menyaring air laut
8 Seser 4 buah Menangkap larva
9 Blower 2 unit System pengudaraan
10 Bak beton 29 buah Wadah pemeliharaan dan
pemijahan induk, penetasan dan
pemeliharaan larva, pendederan
benih, penampungan air laut
11 Pompa 2 unit Penyuplai air laut
12 Tower Penampungan air tawar
13 Kantong Benih Sesuai
permintaan
Kantong panen
14 Sterofoam Sesuai
permintaan
Pengemasan benih
15 Alat-alat
laboratorium
Sesuai
pemakaian
Kultur murni chlorella
16 Handrafraktometer 1 buah Mengukur kualitas
14
17 Thermometer 3 buah Mengukur suhu
18 DOmeter 1 buah Mengukur kandungan oksigen
terlarut
19 pHmeter 1 buah Mengukur pH
Tabel 3. Bahan-bahan untuk Pembenihan kerapu macan
No Bahan Jumlah Kegunaan
1 Induk ikan kerapu Jantan 5 ekor
Betina 13 ekor
Organisme yang
dipraktekkan
2 Pakan induk
• Ikan rucah
• Cumi
• 50 kg
• 20 kg
Makanan bagi induk
3 Pakan larva
• Chlorella
• Rotifer
• Artemia
• Buatan

Makanan bagi larva
4 Kaporit – Treatment air, membersihkan
bak
5 Tiosulfat – Menetralkan bau kaporit
6 • Pupuk kandang
• Urea
• ZA
• TSP

Pupuk yang menumbuhkan
chlorella
7 • Scoot’s emulsion
• Vitamin C1000
• Prefuran
• RDN Ultra Algae

Pengkayaan pakan
15
8 • Enervon C
• Natur E

Vitamin dan pemangan
gonad induk
3.5. Prosedur Kerja
3.5.1. Persiapan wadah
Bak beton yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dengan
larutan zeolit acid kemudian menggosok dengan menggunakan sikat, baik
dibagian dasar bak maupun dindingnya. Demikian pula dengan bak
penampungan plankton dan bak kultur pakan alami dibersihkan seperti pada
bak beton. Perlengkapan aerasi direndam didalam larutan zeolit acid dan
menggosok dengan menggunakan spon. Bak yang sudah digosok kemudian
dibilas dengan air laut steril hingga bersih, begitupula dengan peralatan aerasi
yang sudah digosok juga dibilas hingga bersih.
Bak beton dan peralatan aerasi disiram dengan larutan kaporit dan
diratakan dengan menggunakan sapu karet dibagian dasar bak, bak dan
peralatan aerasi yang sudah dibilas kemudian dikeringkan hingga bau
kaporitnya hilang kemudian dinetralkan dengan larutan tiosulfat. Perlengkapan
aerasi dipasang dan bak tersebut diisi dengan air media steril dengn
menggunakan fiber bag sebanyak 80% dari volume bak yang dialirkan dari bk
treatmet air kemudian diaerasi keras.
3.5.2. Pengelolaan induk
A. Pemeliharaan induk
Induk betina dan induk jantan dipelihara di bak terpisah. Induk
diberikan pakan pakan berupa ikan rucah (tembang dan ciko – ciko ) pada pagi
dan sore hari sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Setelah pemberian
pakan, dilakukan pergantian air dengan cara membuka saluran pembuangan
dan mengoperasikan pompa air laut agar air dapat mengalir kedalam bak
pemeliharaan. Jika air dalam bak sudah diganti, pompa air laut dimatikan dan
pompa resirkulasi dioperasikan agar air dalam bak induk tersirkulasi.
16
B. Pematangan gonad induk
Pakan yang akan diberikan kepada induk, dibersihkan terlebih
dahulu kemudian Vitamin Nature E dan vitamin Enervon C yang berupa
kapsul, dimasukkan kebagian tubuh pakan. Pakan yang telah diberi vitamin,
diterbar kebak pemeliharaan.
C. Pengelolaan Kualitas Air Induk
Air di bak pemeliharaan dibuang dengan cara membuka pipa
pengeluaran yang berada dibagian tengah bak. Bagian dasar bak pemeliharaan
disipon dengan cara alat sipon yang terbuat dari sikat dan tangaki besi didorong
dari sisi bak ke bagian tengah bak, dimana terdapat saluran pembuangan.
Setelah bak pemeliharaan selesai disipon, air bak diganti dengan air baru.
Untuk menjaga air bak tetap bersih dan dapat terganti hingga 200- 300% setiap
harinya, pompa sirkulasi dioperasikan agar air dalam bak pemeliharaan
tersirkulasi selama 24 jam.
D. Pengelolaan Pakan Induk
Pakan yang baru dibeli berupa ikan rucah (tembang dan ciko – ciko)
dan cumi- cumi ditempatkan ke dalam baskom. Pakan ikan rucah dibersihkan
dan dihilangkan bagian kepalanya dan isi perutnya, sedangkan cumi- cumi
dihilangkan tintanya. Pakan yang sudah dibersihkan, dimasukkan kedalam
kantong pakan yang terbuat dari saringan hijau. Pakan yang sudah dikemas
tersebut dimasukkan ke dalam freezer. Pemberian pakan dilakukan setiapa hari
dengan frekuensi pemberian satu kali sehari yaitu pada pagi atau sore hari
dengan dosis 3- 5% dari berat badan ikan.
E. Pemijahan
• Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang
sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan
salinitas + 32 ‰.
17
• Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan
cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari.
Mulai jam 09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai
kedalaman 40cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air
dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini
dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.
• Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik
denganhormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan
Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon
yang diberikan adalah : HGG 1.000 – 2.000 IU/kg induk dan
Puberogen 150 – 225 RU/kg induk
• Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai
malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara
jam22.00 – 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali
bulan Juni – September dan bulan Nopember – Januari.
• Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan
dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.
F. Penetasan Telur
Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga
merupakan bak pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk empat
persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m3. Tiga hari sebelum bak
penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu
dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na
OCI) 50 – 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan
Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut
dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva
dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 – 280C.
Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.
Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih
(transparan). Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 – 5 ppm
18
acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Padat penebaran telur di Bak
Penetasan berkisar 20 – 60 butir/liter air media. Ke dalam bak penetasan perlu
ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.000 – 100.000 sel/ml untuk menjaga
kualitas air. Telur akan menetas dalam waktu 18 – 22 jam setelah pemijahan
pada suhu 27 – 280C dan kadar garam 30 – 32 ‰.
G. Pengendalian Penyakit
Bak fiber yang akan digunakan untuk penyembuhan, diisi dengan air
laut steril hingga penuh dan diberi aerasi. Induk yang luka dipisahkan dari
induk yang sehat, kemudian induk tersebut diobati dengan cara menempelkan
bubuk elbazin pada bagian tubuh yang luka. Induk yang sudah diobati,
dipelihara dalam bak penyembuhan hingga lukanya benar- benar sembuh.
H. Seleksi Induk Matang Gonad
Induk jantan dan betina ditangkap dengan menggunakan saringan
hijau. Untuk mengetahui induk yang matang gonad, dilakukan dengan cara
stripping (bagian perut induk diurut ke arah anus). Jika terdapat cairan putih
pada jantan yang jumlahnya cukup banyak, sedangkan induk betina dikanulasi.
Induk yang matang gonad dipisahkan untuk dipijahkan dengan system
manipulasi lingkungan.
3.5.3. Pemijahan Alami Sistem Manipulasi Lingkungan
Induk kerapu tikus D. yang matang gonad dimasukkan ke dalam
bak pemijahan yang telah disiapkan sebelumnya dengan sex ratio 1: 2. Pada
siang hari dilakukan penjemuran yaitu menurunkan volume air bak sehingga
volume air bak tersisa 20% dari volume bak dan pada sore hari menjelang
malam, air dinaikkan atau ditambah sehingga volume air mencapai 80% dari
volume bak. Pemberian pakan tetap dilakukan pada pagi hari. Kolektor telur
dipasang dikotak panen dengan cara diikat pada bagian pipa pengeluaran telur.
19
3.5.4. Penyiapan Pakan Alami untuk Larva
– Kultur Chlorella
Persiapan untuk kultur Chlorella adalah mencuci bak dengan sikat
kemudian dibilas hingga bersih dan dikeringkan selama 2 jam. Setelah itu diisi
dengan air sebanyak 8 ton (8000 liter) dan diberi kaporit yang berfungsi untuk
treatment air dan air dibiarkan selama 12 jam. Setelah ditreatment selama 12
jam, bibit Chlorella sp dimasukan sebanyak 1-2 ton dengan menggnakan
pompa celup. Bibit tersebut berasal dari bak lain yang telah berumur 7-8 hari.
Kemudian dilakukan pemupukan dengan cara dilarutkan dalam ember. Dosis
pupuk yang digunakan adalah urea 40 ppm. ZA 30 ppm, SP-36 20 ppm, FeCl3
1-3 ppm dan EDTA 1-3 ppm.
– Kultur Rotifera (Branchionus plicatilis)
Ukuran akuarium yang dapat digunakan sebagai wadah
pemeliharaan adalah 60 x 40 x 50 cm, sedangkan fiberglass yang biasa dipakai
adalah yang berukuran hingga 1 ton. Wadah dicuci bersih dan dikeringkan di
bawah terik matahari.Akuarium diisi dengan air kolam dan volume air yang
dimasukkan dihitung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan jumlah pupuk
yang akan digunakan. Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam atau
kotoran kuda dengan dosis 300-400 g/liter air. Pemberian pupuk dilakukan
dengan jalan membungkus pupuk tersebut dalam kain, kemudian digantung
hingga seluruh pupuk terendam air. Setelah tujuh hari, kondisi air media sudah
siap sitebari bibit rotifer. Panen dapat dilakukan pada minggu berikutnya ketika
populasi rotifera mencapai puncak. Pemanenan dilakukan dengan
menggunakan planktonnet dengan cara menciduk langsung atau melaluio
penyifonan. Kepadatan populasi akan bisa dipertahankan tetap tinggi selama
satu bulan apabila setiap 5-6 hari dilakukan pemupukan ulang sebanyak
separuh dosis pupuk awal.
20
– Kultur artemia salina
Penetasan artemia yang baik yaitu dengan penetasan dekapsulasi.
Dekapsulai adalah proses penipisan cangkang telur luar kista dengan
menngunakan larutan clorin. Proses dekapsulai adalah kista dicuci dengan air
dan dimasukan dalam ember, kemudian dimasukan larutan clorin sebanyak 500
ml dan diaduk hingga berubah warna menjadi orange. Suhu saat dekapsulasi
dipertahankan <>oC. Lama dekapsulasi 5-15 menit, setelah itu kista disaring
dan dicuci bersih dengan air lalu diberi tiosulfat agar menetralkan clorin. Kista
artemia siap dikultur di bak yang diisi dengan air dan aerasi selama 12-24 jam.
3.5.5. Penetasan Telur
A. Inkubasi dan perhitungan telur
Telur kerapu dimasukkan kedalam bak inkubasi. Masukkan garam
ke dalam bak inkubasi yang sudah berisi telur. Telu diinkubasi selama satu
jam. Telur ikan kerapu yang sedang diinkubasi, diambil dengan menggunakan
gelas piala sebagai sampel. Telur- telur tersebut dihitung dengan cara telur
diambil piala dengan menggunakan pipet tetes dan dihitung hingga sampel
telur dalam gelas habis. Telur yang dihitung adalah berapa jumlah telur yang
berwarna transparan dan terapung serta berapa jumlah telur ynag berwarna
putih pucat dan tenggelam. Untuk mengetahui persentase telur yang terbuahi
dan telur yang tidak terbuahi dapat dihitung dengan rumus berikut :
SRe= Jumlah telur yang terbuahi X 100%
Jumlah telur yang ditebar
Keterangan :
SRe = Tingkat kelangsungan hidup embrio
Setelah dilakukan perhitungan telur, aerasi diangkat agar air dalam
bak inkubasi menjadi tenang. Air yang tenang akan menyebabkan telur yang
tidak terbuahi tenggelam dan mengendap di dasar bak, sedangkan telur yang
terbuahi terapung dipermukaan air. Telur yang mengendap dan terkumpul di
21
dasar bak dibuang dengan cara membuka kran pembuangan. Telur yang
terapung ditebar di bak penetasan telur.
B. Penebaran dan penetasan telur
Seser yang digunakan untuk menebar telur diletakkan diatas ember
yang berisi air laut. Telur diambil di bak inkubasi dengan menggunakan
gayung kemudian dimasukkan ke dalam seser tadi. Seser yang berisi telur
diangkat dan ditebar ke dalam penetasan sekaligus bak pemeliharaan larva
nantinya. Daya tetas telur (HR) dapat dihitunh dengan rumus berikut :
HR= Jumlah telur yang menetas X 100%
Jumlah telur yang ditebar
Keterangan :
HR = Daya tetas telur (Hatching Rate)
3.5.5. Pemeliharaan Larva
1. Pengelolaan Pakan
A. Pemberian minyak cumi
Minyak cumi yang diberikan dengan cara memipet dari dalam
botol minyak cumi menggunakan pipet skala 0,1 ml, kemudian
menebarkan ke atas permukaan air pemeliaharaan larva. Cara pemberian
cumi dilakukan di sudut dan pertengahan bak hingga minyak cumi yag ada
dalam pipet skala habis.
B. Pemberian chlorella
Bak penampungan chlorella diletakkan di atas bak pemeliharaan
induk. Perlengkapan aerasi dimasukkan dalam bak penampungan disertai
selang aerasi untuk mengalirkan chlorella ke bak pemeliharaan larva. Filter
kapas dipasang pada ujung selang spiral dan ujung yang satunya dipasang
pada pipa yang berasal dari bak chlorella. Setelah selang spiral terpasang,
22
kran diputar dan chlorella mengalir ke bak penampungan hingga mencapai
volume yang dibutuhkan. Selang aerasi yang telah dipasang tadi, dihisap
dan chlorella yang berasal dari bak penampungan dialirkan ke bak
pemeliharaan larva dengan system gravitasi.
C. Pemberian rotifer
Rotifer yang sudah dikayakan disaring kemudian dimasukkan ke
dalam ember. Pemberian rotifer dilakukan secara hati- hati dengan
menggunakan gayung kemudian ditebar merata ke dalam bak
pemeliharaan.
D. Pemberian artemia
Artemia yang sudah dikayakan disaring kemudian dimasukkan
ke dalam ember. Pemberian artemia dilakukan secara hati- hati dengan
menggunakan gayung kemudian ditebar merata ke dalam bak
pemeliharaan.
E. Pemberian pakan buatan
Pakan buatan love larva dimsukkan ke dalam botol pakan.
Pemberian pakan buatan dilakukan dengan cara botol pakan disemprotkan
ke permukaan air bak pemeliharaan. Pada fase benih diberikan pakan
pellet yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya dengan cara menebar
ke dalam bak pemaliharaan.
2. Pengelolaan kualitas air
A. Penyiponan dan pergantian air
Ujung pipa sipon yang dimasukkan ke dalam air pemeliharaan
diberi kapas sebagai pembersih dasar bak dan ujung satunya disambung
dengan selang sipon. Selang sipon dihisap agar air kotor dalam bak
23
pemeliaharaan keluar. Penyiponan dilakukan dengan menggerakkan pipa
sipon secara perlahan- lahan ke dasar bak yang terdapat kotoran.
Air dalam bak pemeliaharaan dibuang sekitar 20% dari volume
air dengan cara pipa pengeluaran dicabut. Setelah dilakukan pembuangan
air, pompa celup disambung pada selang spiral untuk mengalikan air dari
bak treatment air yang sudah disterilkan. Pompa celup dioperasikan untuk
mengalirkan air laut steril ke bak pemliharaan yang akan diganti airnya.
B. Pengukuran parameter kualitas air
Unuk mengukur salinitas air, digunakan handrafraktometer.
Cara mengunakan alat tersebut yaitu handrafraktometer dibilas dengan
aquades dan dikeringkan dengan tissue kemudian dinetralkan. Air sampel
diambil dari bak pemeliharaan larva sebanyak 1 tetes dan dimasukkan ke
alat tersebut dan dilihat berapa angka yang ditunjukkan. Untuk mengukur
suhu diperlukan thermometer yang digantung diatas permukaan air,
sehingga setiap saat nilai suhu dapat dilihat. Untuk mengukur pH air
digunakan pH meter, sedangkan untuk mengukur oksigen terlarut
diperlukan DOmeter yang masing- masing alat tersebut dapat dicelupkan
ke dalam air bak pemeliharaan dan nilainya langsung. Tertera di layar alat
tersebut.
3. Pengamatan laju pertumbuhan
A. Grading
Larva ikan kerapu yang digrading, ditangkap ddengan
menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam baskom da diberi aerasi.
Dalam bskom tersebut digrading antara larva ukuran kecil, sedang dan
besar dipisahkan pada baskom yang berbeda dengan menggunakan
potongan botol air mineral dan gayung. Larva yang sudah digrading,
dimasukkan kedalam bak peneliharaan baru sesuai dengan ukurannya yaitu
satu tempat utuk ukuran kecil, satu tempat untuk ukuran sedang dan
demikian pula untuk ukuran yang besar.
24
B. Perhitungan laju pertumbuhan
Untuk menghitung laju pertumbuhan dapat dilakukan dengan
menggunakan 5 ekor benih ikan kerapu sebagai sampel. Pengukuran
panjang, dilakukan dengan mengukur mulai ujung mulut sampai ujung
ekor serta lebar mulai dari sirip punggung sampai bagian bawah perut
dengan menggunakan mistar. Penentuan berat dilakukan dengan
menimbang sampel menggunakan timbangan analitik.
C. Pemindahan benih
Sebelumdipindahkan larva terlebih dahulu digrading. Larva
ynag sudah degrading dipindahkan ke dalam baskom yang berisi air laut
steril dengan menggunakan seser. Baskom yang sudah diisi larva
kemudian dipindahkan dan ditebar ke bak pendederan secara perlahanlahan.
D. Pengendalian penyakit
Benih yang sakit ditangkap dengan menggunakan seser dan
dimasukkan ke dalam baskom yang berisi formalin, elbazin dan air tawar.
Benih yang terkena jamur atau protozoa direndam dengan larutan formalin
10 ppm dan air tawar selama 10 menit. Sedangkan benih kerapu yang
berlendir direndam dengan larutan elbazin 5 ppm selama 10 menit. Benih
ikan yang sudah direndam dimasukkan kedalam bak penyembuhan atau
bak karantina yang telah diisi dengan air laut steril.
3.5.7 Panen dan Pengepakan
Benih yang akan dipanen ditangkap engan menggunakan seser
kemudian dimasukkan ke dalam tudung saji untuk dihitung. Kantong benih
diletakkan dalam baskom kemudian diisi dengan air laut steril. Benih yang
sudah dihitung dimasukkan kedalam kantong benih dengan kepadatan 100
25
ek/ kantong (disesuaikan dengan ukuran ikan dan lama pengakutan) dan
diberi oksigen dengan perbandingan oksigen dan air 1 : 3. Kantong benih
diikat dengan karet gelang dan dimasukkan kedalam sterofoam. Kotak
sterofoam diberi es batu disekitar kantong benih kemudian diisolasi dan
ditutup rapat serta diberi label. Kotak sterofoam yang sudah ditutup rapat
siap dikirim pada konsumen.
26
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. dan Sudaryanto. 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek.
Penebar Swadaya. Jakarta. 104 hal
Anonim, 2001, Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. PT Agromedia
Pustaka, Depok.
Gitari ,1995, “Taksonomi & Morfologi Ikan Kerapu Tikus”, Bandung
Heamstra dan Ramdall 1993, Pembenihan Ikan Kerapu , Jakarta.
Ir. Ridwan, M.P. dan Dr. Ir. Jayadi, M.P. 2009. Teknik Pembenihan dan
Pembesaran Ikan Kerapu (Grouper)
Kordi, 2001. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Banatjipta. Bandung.
Nybakken 1988, Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kerapu Bebek. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Sudirman, “ Ikan Kerapu : Biologi, Exploitasi, da Budidayanya “, Buletin
Budidaya, 1979
Suyoto, P.; Mustahal.2001. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu,Kakap,
Beronang. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tampu Bolon dan Mulyadi, “Pemijahan Alami Ikan Kerapu Macan
(Epinephelus fuscoguttatus) di Bak Terkontrol”, Buletin Budidaya,
1989.

Sampingan  —  Posted: Maret 15, 2013 in Uncategorized

Gambar

Hasnawati

 BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Ikan Kerapu (Epinephelus sp) umumnya dikenal dengan istilah “groupers” dan merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun padar internasional dan selain itu nilai jualnya cukup tinggi. Eksport ikan kerapu melaju pesat sebesar 350% yaitu dari 19 ton.pada tahun 1987 menjadi 57 ton pada tahun 1988 (Deptan, 1990).

Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya.

Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993 ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) sudah dapat dibenihkan, Balai Budidaya Laut Lampung sebagai unit Pelaksana Teknis Direktorat Jenderal Perikanan,telah melakukan upaya untuk menghasilkan benih melalui pembenihan buatan manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon.

1.2  Tujuan Dan Kegunaan

  1. A.    Tujuan

Kegiatan PKPM ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui teknik Pembenihan ikan kerapu dan membadingkan atara teori yang didapat dalam bangku kuliah  dan pengaplikasian dilapangan.

  1. B.     Kegunaan

Sedangkan kegunaan dari kegiatan yang akan dilakukan dalam PKPM ini untuk menambah wawasan dan menjadi bahan informasi bagi masyarakat dalam hal teknik pemeliharaan larva kerapu  sekalipun dapat meningkat keterampilan dan memunculkan jiwa wirausaha dan tenaga ahli bidang pembenihan kerapu.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Taksonomi dan Morfologi

Ikan kerapu bentuk tubuhnya agak rendah, moncong panjang memipih dan menajam, maxillarry lebar diluar mata, gigi pada bagian sisi dentary 3 atau 4 baris, terdapat bintik putih coklat pada kepala, badan dan sirip, bintik hitam pada bagian dorsal dan poterior. Habitat benih ikan kerapu macan adalah pantai yang banyak ditumbuhi algae jenis reticulata dan Gracilaria sp,

Setelah dewasa hidup di perairan yang lebih dalam dengan dasar terdiri dari pasar berlumpur. Ikan kerapu termasuk jenis karnivora dan cara makannya “mencaplok” satu persatu makan yang diberikan sebelum makanan sampai ke dasar. Pakan yang paling disukai kenis krustaceae (rebon, dogol dan krosok), selain itu jenis ikan-ikan (tembang, teri dan belanak)

Klasifikasi Kerapu Epinephelus fuscoguttatus Sigit Budileksono (1993.) dan Kisto Mintardjo(1991).

Ikan kerapu macan (Epinehelus fuscoguttatus) digolongkan pada :

Class               : Chondrichthyes

Sub class          : Ellasmobranchii

Ordo                : Percomorphi

Divisi              : Perciformes

Famili              : Serranidae

Genus              : Epinephelus

Species            : Epinepheus s

2.2 Teknik Pembenihan

2.2.1  Sarana Pembenihan

a. Induk sebanyak 5 ekor betina dan 2 ekor jantan. Induk jantan berukuran panjang 77 –   78 cm  dan berat 9,5 – 11 kg/ekor. Induk betina berukuran panjang 60 – 70 cm dan berat 5,3 – 7,8 kg/ekor.

b. Pakan induk berupa ikan segar dari jenis selar, japuh dan jantan yang kandungan proteinnya  tinggi dan kandungan lemaknya rendah.

c. Kurungan apung untuk pemeliharaan induk berukuran 3 x 3 x 3 m3.

d. Bak pemijahan dengan kapasitas 100 ton.

e. Bak penetasan sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva yang berukuran 4 x 1 x 1 m3 terbuat dari beton, berbentuk empat persegi panjang.

2.2.2  Metoda

Metoda yang digunakan adalah manipulasi lingkungan. Untuk merangsang terjadinya perkawinan antara jantan dengan induk betina matang kelamin digunakan metoda manipulasi lingkungan di bak terkontrol. Teknikpemija han dengan manipulasi lingkungan ini dikembangkan berdasarkan pemijahan ikan kerapu di alam, yaitu dengan rangsangan atau kejutan faktorfaktor lingkungan seperti suhu, kadar garam, kedalaman air dan lain-lain. Pemijahan mengikuti fase peredaran bulan; pada saat bulan terang atau bulan gelap.

2.2.3Pemeliharaan Induk

Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan apung dengan padat penebaran induk 7,5 – 10 kg/m3. Pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar berkadar lemak rendah. Diluar pemijahan ikan, takaran pakan yang diberikan sebesar 3 – 5% dari total berat badan ikan/hari, sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 – 15 mg/ekor/minggu.

2.2.4 Sex reversal

Kerapu termasuk ikan yang “hermaprodit protogyni”, yaitu pada kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. Sel kelamin betina terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Sel kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Pada kenyataannya lebih banyak ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron. Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan setiap minggu, diikuti dengan penambahan multivitamin.Takaran yang diberikan adalah :

  1. Hormon testosteron 2 mg/kg induk
  2. Multivitamin 10 mg/kg induk

2.2.5 Seleksi Induk

Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui denan cara mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan, kemudian dihisap.Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron.

2.2.6 Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad

Ikan kerapu tikus ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina kemudian berubah menjadi jantansetelah tumbuh besar /umurnya bertambah tua. Menentukan jenis kelamin jatan dan betina dapat di lakukan dengan dua cara yaitu menggunakan selang mikro (kanulasi) dan menggunakan metode pengurutan.

Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran (Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003). Di habitat aslinya, kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni antara pukul 8 malam hingga 3 pagi. Biasanya, kerapu  jantan akan berenang berputar-putar mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya, kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya kemudian telur akan di buah oleh sperma. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran (Smith. 1982).

2.2.7 Pemijahan

a. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan salinitas + 32 ‰.

b. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Mulai jam 09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air dikembangkan kepossisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini dilakukan terus meneruss ampai induk memijah secara alami.

c. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik dengan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon yang diberikan adalah :

  1. HGG 1.000 – 2.000 IU/kg induk
  2. Puberogen 150 – 225 RU/kg induk

d. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam 22.00 – 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali bulan Juni – September dan bulan Nopember – Januari

e. Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.

2.2.8 Penetasan telur

Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga merupakan bak pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk empat persegi panjangdengan ukuran 4 x 1 x 1 m3. Tiga hari sebelum bak penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na OCI) 50 – 100ppm.Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 – 280C.Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih (transparan). Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 – 5 ppm acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Padat penebaran telur di Bak Penetasan berkisar 20 – 60 butir/liter air media. Ke dalam bak penetasan perlu ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.000 100.000 sel/ml untuk menjaga kualitas air.Telur akan menetas dalam waktu 18 – 22 jam setelah pemijahan pada suhu 27 – 280C dan kadar garam 30 – 32 ‰.

Gambar 1. Grafik Prosentase Telur yang Dibuahi

2.3 Perkembangan Dan Pemeliharaan  Larva

2.3.1 Perkembangan Larva

Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang dan gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva akan berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari.

Gambar 2 Perkembangan Bentuk  Larva kerapu

Adapun perkembangan larva kerapu dari umur 1 hari (D1) sampai umur 31 hari (D31) dapat  ilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Perkembangan larva ikan kerapu.

Hari Ke Tahap Perkembangan Panjang (mm)
D1 Larva menetas transparan,melayang dan tidak aktif 1,89 – 2,11
D3 Timbul bintik hitam dikepala dan pangkal perut 2,14-2,44
D7-8 Timbul calon sirip Punggung yang keras dan panjang 7,98 – 8,96
D9-11 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 15,88 – 17,24
D15-17 Duri memutih, bagian ujung agak kehitaman 17,2 – 18,6
D23-26 Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, pada bagian ujung tumbuh sirip awal lunak 20,31 – 22,64
D29-31 Sebagian larva yang pertumbuhannya capat telah berubah menjadi burayak (juvenil),bentuk dan warnanya telah menyerupai ikan 22,40 – 23,42

Masa kritis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8) memasuki umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan bentuk tubuh yang sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20) larva berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari larva baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak terkendali kemudian terbalik lalu mati. Pada kasus tersebut diupayakan dengan cara merubah pakan Artemia dengan kandungan W3 HUFA yang lebih tingi. Dari kasus ini tentunya dapat diajukan suatu hepotesa sementara bahwa kurannya unsur tertentu pada larva kerapu dalam waktu yang cukup lama akan mempengaruhi kondisi fisik dan kelangsungan hidup larva.

2.3.2 Pemeliharaan Larva

Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2) setelah menetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari luar. Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1 – 3ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp dengan kepadatan antara 5.10 – 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai kepadatan 5 – 10 ekor/ml plytoplankton 10 – 2.10 sel/ml media.Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang baru menetas dengan kepadatan 0,25 – 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 – 5 ekor/ml media.Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari. Skema jenis dan pemberian pakan larve kerapu dapat dilihat pada Gambar 3. Pemberian pakan dengan cincangan daging ikan mulai dicoba pada saat metamorfosa larva sempurna menjadi benih ikan kerapu.

Gambar 3. Grafik Jenis Pakan

2.3.3 Pengelolaan Kualitas Air

Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan larva perlu dijaga kualitas airnya dengan penambahan phytoplankton Chlorella, dengan kepadatan 5.103 – 104 sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir pembusukkan yang ditimbulkan oleh telur yang tidak menetas dan sisa cangkang telur yang ditinggalkan. Pembersihan dasar bak dengan cara penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air dilaksanakan pertama kali pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak 5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak.Pada saat larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%. Prosentase pengantian air selama pemeliharaan larve kerapu dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4.  Grafik Prosentase Penggantian Air

2.3.4        Pengelolaan Pakan

Ikan kerapu merupakan ikan laut yang buas (karnivora ) dan sifat kanibalisme akan muncul jika kekurangan pakan .oleh sebab itu pakan yang diberikan harus cukup baik kualitas maupun kuantitas . pakan yang baik harus emenuhi gizi ikan kerapu berupa : protein, karbohidrat, lemat, mineral, dan vitamin, sehingga ikan yang dibudidayakan dapat tumbuh dengan baik.

Keberhasilan pembenihan ikan kerapu sangat tergantung pada kecukupan pakan. Pemberian pakan harus tepat agar pakan yang diberikan dapat efisien dikonsumsi ikan yang dipelihara dan memberikan kelansungan hidup dan pertumbuhan yang baik sehingga penggunaan pakan menjadi efisien, karena berkaitan dengan pencernaan dan pemakaian energi. Pemilihan jenis dan ukuran pakan yang tepat akan mempengaruhi efisiensi pemanfaatan pakan. Pakan yang digunakan dapat berupa pakan alami/ pakan segar atau pakan buatan.

2.3.5        Hama dan Penyakit

Hama

Menurut Kordi, (2002) mengatakan bahwa hama merupakan organisme yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan budidaya di dalam kolam hama pada budidaya ikan kerapu C. ada 2 macam yaitu : predator dan kompetitor.

Penyakit

Penyakit yang sering di menyerang ikan kerapu ada dua macam yaitu penyakit infeksi, penyakit yang dapat menginfeksi ikan kerapu yaitu berupa jamur, bakteri maupun virus. Sedangkan yang ke dua yaitu penyakit non infeksi adalah penyakit pada ikan kerapu yang di sebabkan oleh ketidak sesuaian media pemeliharaan ikan kerapu yang ada di tambak dengan kondisi aslinya di alam sehingga menyabakan ikan kerapu tersebut stress.

BAB III

METODOLOGI

3.1. Waktu dan Tempat

Pelaksanaan pengalaman kerja praktek mahasiswa (PKPM) yang akan dilaksanakan selama tiga bulan  yaitu taanggal 13 Maret 2013 sampai bulan  juni 2013 di  Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar di Desa Bentoloe kecamatan Galesong Selatan

3.2. Survei lokasi

            Keadaan umum lokasi :

Balai Budiday Air Payau terletak di Desa Bentoloe kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar  kurang lebih 30 km kearah Selatan Kota Makassar. Tempat  pembenihan  ikan berada di tepi  perairan selatan Makassar. Berdasarkan letak topografinya, pantai BBAP berdasar landai dan stuktur dasar perairan lahannya tidak terjangkau pasang tertinggi, tidak mengalami erosi air laut terlindung dari bahaya banjir, kualitas air laut bersalinitas 30 ppt, pH 7-8,5 dan suhu antara 27-30 oC. BBAP  terdiri atas  tiga lokasi yang berjarak kurang lebih 1 km satu dengan yang lainnya. Lokasi satu terdiri dari atas bangunan kantor, asrama, rumah jaga, perumahan karyawan, aula, sarana olahraga dan sarana pembenihan. Lokasi dua terdiri atas sarana pembenihan, perumahan pegawai, tambak serta laboratorium. Dan lokasi tiga terdiri atas pembenihan, perumahan pegawai.

Sesuai dengan kebutuhan usaha pembenihan maka harus dipilih daerah yang dekat dengan   sumber air laut yang bersih serta ditunjang dengan sarana yang memadai seperti transportasi, listrik serta telepon, hal ini menjadi syarat pembenihan seperti diungkapkan oleh Suyanto dan Mustahal (1997) yaitu bahwa pembenihan yang ideal antara lain mempunyai sarana seperti :

  1. Laboratorium kering untuk pengamatan
  2. Laboratorium basah untuk pengamatan dan perawatan telur dan larva
  3. Ruang Plankton
  4. Ruang Mesin
  5. Bak-Bak Pemijahan
  6. Resevoar dan Filter
  7. Kantor dan Gudang

Disekitar pembenihan terdapat pemukiman penduduk, pembenihan udang skala rumah tangga (Backyard) serta pembenihan udang skala besar (haetchery untuk kelancaran pengadaan saran produksi dan pemasaran benih terdapat jalan raya yang cukup baik dan juga jaringan telepon tersedia.

3.3. Metode Pengumpulan Data

    Metode Pengumpulan Data yang akan digunakan dalam kegiatan pengalaaman kerja praktek mahasiswa (PKPM) yang akan dilaksanakan yaitu dengan cara pengumpulan data berupa :

  • Data primer yaitu data yang diperoleh dengan cara melaksanakan dan mengikuti kegiatan teknik produksi pemeliharaan larva kerapu secara lansung serta ikut berperang akti dilapangan.
  • Data sekunder yaitu data yang diperoleh melalui stidi pustaka dengan cara mengumpulkan data dari berbagai literatur dan melakukan wawancara dengan pembimbing dan teknisi lapangan.

3.4. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif yang bersumber pada data primer dan data sekunder  yang didapatkan selama kegiatan PKPM berlangsung dan disajikan dalam bentuk tabel.

3.5. Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang akan digunakan dalam Praktek Kerja Pengalaman Mahasiswa (PKPM) Pada pembenihan ikan kerapu Tikus di Balai Besar Budidaya Air Payau (BBAP) adalah sebagai berikut :

3.2.1 Alat Dan Bahan

A. Bak Pemeliharaan Induk Dan Pematangan Gonad

  1. Bak Beton                               5. Sikat pembersih bak
  2. Seser                                        6. Pakan Induk
  3. Ember
  4.  Alat pengukur kulitas air(Thermometer,PH,Handrefraktomet)

B. Bak Penetasan Telur

  1. Bak Beton
  2. Ember
  3. Baskom
  4. Kolektor

C. Bak Penampungan Air

  1. Bak Beton                               4. kaporit
  2. Aerasi
  3. Blower

D. Bak Pemeliharaan Larva

  1. Bak Beton                               3. Pakan Larva
  2. Blower                                                4. Aerasi

E. Bak Kultur Pakan Alami

  1. Bak Fiber Kerucut      3. Branchinus,rotifer,chorella,Artemia
  2. Aerasi                          4. Ember

3.5.1        Persiapan Wadah

Bak sebelum di isi larva terlebih dahulu dibersihkan, dikeringkan dan dibilas atau diremdam dengan kaporit. Air laut yang di saring sebelum digunakan di alirkan melalui saluran sinar  UV. Temperatur berkisar antara 27-29 oC. Pengisian bak dilakukan hanya sekitar setengah dari volume bak, untuk selanjutnya dilakukan penambahan pakan alami fitoplankton, persiapan bak pemeliharaan larva

3.5.2        Pengelolaan induk

  1. A.    Pemeliharaan induk

Induk betina dan induk jantan dipelihara di bak terpisah. Induk diberikan pakan pakan berupa ikan rucah (tembang dan ciko – ciko ) pada pagi dan sore hari sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Setelah pemberian pakan, dilakukan pergantian air dengan cara membuka saluran pembuangan dan mengoperasikan pompa air laut agar air dapat mengalir kedalam bak pemeliharaan. Jika air dalam bak sudah diganti, pompa air laut dimatikan dan pompa resirkulasi dioperasikan agar air dalam bak induk tersirkulasi.

  1. B.     Pematangan gonad induk

 Pakan yang akan diberikan kepada induk, dibersihkan terlebih dahulu kemudian Vitamin Nature E dan vitamin Enervon C yang berupa kapsul, dimasukkan kebagian tubuh pakan. Pakan yang telah diberi vitamin, diterbar kebak pemeliharaan.

  1. Pengelolaan Kualitas Air Induk

Air di bak pemeliharaan dibuang dengan cara membuka pipa pengeluaran yang berada dibagian tengah bak. Bagian dasar bak pemeliharaan disipon dengan cara alat sipon yang terbuat dari sikat dan tangaki besi didorong dari sisi bak ke bagian tengah bak, dimana terdapat saluran pembuangan. Setelah bak pemeliharaan selesai disipon, air bak diganti dengan air baru. Untuk menjaga air bak tetap bersih dan dapat terganti hingga 200- 300% setiap harinya, pompa sirkulasi dioperasikan agar air dalam bak pemeliharaan tersirkulasi selama 24 jam

  1. D.    Pengelolaan Pakan Induk

Pakan yang baru dibeli berupa ikan rucah (tembang dan ciko – ciko) dan cumi- cumi ditempatkan ke dalam baskom. Pakan ikan rucah dibersihkan dan dihilangkan bagian kepalanya dan isi perutnya, sedangkan cumi- cumi dihilangkan tintanya. Pakan yang sudah dibersihkan, dimasukkan kedalam kantong pakan yang terbuat dari saringan hijau. Pakan yang sudah dikemas tersebut dimasukkan ke dalam freezer. Pemberian pakan dilakukan setiapa hari dengan frekuensi pemberian satu kali sehari yaitu pada pagi atau sore hari dengan dosis 3- 5% dari berat badan ikan.

  1. E.     Pemijahan
    1. Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan salinitas + 32 ‰.
    2. Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari. Mulai jam 09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai kedalaman 40cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.
    3. Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik denganhormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon yang diberikan adalah : HGG 1.000 – 2.000 IU/kg induk dan Puberogen 150 – 225 RU/kg induk
    4. Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara jam22.00 – 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali bulan Juni – September dan bulan Nopember – Januari.
    5. Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.
    6. F.     Pengendalian Penyakit

Bak fiber yang akan digunakan untuk penyembuhan, diisi dengan air laut steril hingga penuh dan diberi aerasi. Induk yang luka dipisahkan dari induk yang sehat, kemudian induk tersebut diobati dengan cara menempelkan bubuk elbazin pada bagian tubuh yang luka. Induk yang sudah diobati, dipelihara dalam bak penyembuhan hingga lukanya benar- benar sembuh.

  1. G.    Seleksi Induk Matang Gonad

Induk jantan dan betina ditangkap dengan menggunakan saringan hijau. Untuk mengetahui induk yang matang gonad, dilakukan dengan cara stripping (bagian perut induk diurut ke arah anus). Jika terdapat cairan putih pada jantan yang jumlahnya cukup banyak, sedangkan induk betina dikanulasi. Induk yang matang gonad dipisahkan untuk dipijahkan dengan system manipulasi lingkungan.

3.5.3. Pemijahan Alami Sistem Manipulasi Lingkungan

Induk kerapu tikus D.  yang matang gonad dimasukkan ke dalam bak pemijahan yang telah disiapkan sebelumnya dengan sex ratio 1: 2. Pada siang hari dilakukan penjemuran yaitu menurunkan volume air bak  sehingga volume air bak tersisa 20% dari volume bak dan pada sore hari menjelang malam, air dinaikkan atau ditambah sehingga volume air mencapai 80% dari volume bak. Pemberian pakan tetap dilakukan pada pagi hari. Kolektor telur dipasang dikotak panen dengan cara diikat pada bagian pipa pengeluaran telur.

3.5.4.      Penyiapan Pakan Alami untuk Larva

  • Kultur Chlorella

Persiapan untuk kultur Chlorella adalah mencuci bak dengan sikat kemudian dibilas hingga bersih dan dikeringkan selama 2 jam. Setelah itu diisi dengan air sebanyak 8 ton (8000 liter) dan diberi kaporit yang berfungsi untuk treatment air dan air dibiarkan selama 12 jam. Setelah ditreatment selama 12 jam, bibit Chlorella sp dimasukan sebanyak 1-2 ton dengan menggnakan pompa celup. Bibit tersebut berasal dari bak lain yang telah berumur 7-8 hari. Kemudian dilakukan pemupukan dengan cara dilarutkan dalam ember. Dosis pupuk yang digunakan adalah urea 40 ppm. ZA 30 ppm, SP-36 20 ppm, FeCl3 1-3 ppm dan EDTA 1-3 ppm.

  • Kultur Rotifera (Branchionus plicatilis)

Ukuran akuarium yang dapat digunakan sebagai wadah pemeliharaan adalah 60 x 40 x 50 cm, sedangkan fiberglass yang biasa dipakai adalah yang berukuran hingga 1 ton. Wadah dicuci bersih dan dikeringkan di bawah terik matahari.Akuarium diisi dengan air kolam dan volume air yang dimasukkan dihitung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan jumlah pupuk yang akan digunakan. Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam atau kotoran kuda dengan dosis 300-400 g/liter air. Pemberian pupuk dilakukan dengan jalan membungkus pupuk tersebut dalam kain, kemudian digantung hingga seluruh pupuk terendam air. Setelah tujuh hari, kondisi air media sudah siap sitebari bibit rotifer. Panen dapat dilakukan pada minggu berikutnya ketika populasi rotifera mencapai puncak. Pemanenan dilakukan dengan menggunakan planktonnet dengan cara menciduk langsung atau melaluio penyifonan. Kepadatan populasi akan bisa dipertahankan tetap tinggi selama satu bulan apabila setiap 5-6 hari dilakukan pemupukan ulang sebanyak separuh dosis pupuk awal.

  • Kultur artemia salina

Penetasan artemia yang baik yaitu dengan penetasan dekapsulasi. Dekapsulai adalah proses penipisan cangkang telur luar kista dengan menngunakan larutan clorin. Proses dekapsulai adalah kista dicuci dengan air dan dimasukan dalam ember, kemudian dimasukan larutan clorin sebanyak 500 ml dan diaduk hingga berubah warna menjadi orange. Suhu saat dekapsulasi dipertahankan <>oC. Lama dekapsulasi 5-15 menit, setelah itu kista disaring dan dicuci bersih dengan air lalu diberi tiosulfat agar menetralkan clorin. Kista artemia siap dikultur di bak yang diisi dengan air dan aerasi selama 12-24 jam

3.3.1.      Penebaran/Penetasan Telur

Telur ikan kerapu tikus yang yang baru datang di pindahkan  kedalam bak kerucut  dan diketahui volumenya untuk memudahkan dalam perhitungan jumah telur.  Telur ikan kerapu tikus yang baik akan terapung pada permukaan air dengan warna transparan dengan prensentase telur yang mengapung >50%. Telur yang jelek mengendap pada dasar bak dan warna putih susu.  Sebelum telur ditebar terlebih dahulu dilakukan perhitungan  telur untuk mengetahui jumlah telur yang ada. Telur yang telah diketahui jumlahnya selanjutnya ditebar dalam bak pemeliharaan larva dengan kepadatan 10-15 btr/liter. Bak pemeliharaan larva yang digunakan adalah bak semen berbentuk persegi panjang tanpa sudut mati. Dilengkapi aerasi dengan jarak 50-80 cm. Sumber aerasi berasal dari blower yang dialirkan  melalui intalasi pipa, selanjutnya melalui slang aerasi dan terakhir melalui batu aerasi yang diletakkan pada dasar bak. Kecepatan aerasi diatur berdasarkan umur dan kekuatan larva. Larva umur DO_D2 kekuatan aerasi agak kuat, antara umur D3-D10 kekuatan aerasi agak kecil/sedang, antara umur D11-D25 kekuatan aerasi ditambakan sedikit-demi untuk mengindari larva bergerembol pada permukaan air.  Setelah larva berumur lebih dari D25 dan sudah mulai berenang aktif mengeliling dinding bak pemeliharaan, maka aerasi harus diperkuat agar oksigen yang tersedia dalam air media pemeliharaan cukup untuk mendukung kehidupan larva.

3.3.3. Pemeliharaan Larva

Telur yang telah ditebar akan menetas dan berubah menjadi larva setelah 17-25 jam dari waktu pemijahan, larva yang berumur 1-2 hari (D1-2) masih bersifat planktonis, berwarna transparan dan sistem penglihatan belum berfungsi. Sumber makanan sepenuhnya masih tergantung pada kuning telur yang ada pada bagian perut (yolk egg) yang berfungsi sebagai cadangan makanan.

Pengaturan suplai oksigen ke dalam bak pemeliharaan agar tidak terlalu besar gelembung udaranya  untuk memudahkan larva menagkap makanan yang di umpankan,  karena  kuningtelur sebaga cadangan makanan  sudah diserap habis pada saat larva berumur 3 hari (D3).  Pada saat ini mulut dan system penglihatan larva sudah mulai berfungsi sehingga larva sudah mulai mencari pakan dari luar. Larva yang tidak berhasil mendapatkan asupan pakan dari luar hanya mampu bertahan hidup hingga D6-D7.

Bakal sirip larva punggu (spina dorsalis) dan sirip perut (spina ventralis) mulai tampak beruba tonjol pada saat larva berumur D10 dan pada saat D15-D20 spina sudah terlihat jelas. Pertambahan panjang spina berlangsung sampai larva berumur D28, dan selanjutnya akan mereduksi menjadi duri keras pertama pada sirip punggung dan sirip perut. Spina mereduksi sampai umur D37 yang diikuti oleh bertambah penjangnya tubuh yang selanjut akan menjadi ikan muda yang berwarna putih transparan sampai umur D45, selanjutnya ikan muda akan mengalami perubahan warna yang sama seperti ikan dewasa (juvenile).

  1. 1.      Pengelolaan Pakan
    1. A.    Pemberian minyak cumi

Minyak cumi yang diberikan dengan cara memipet dari dalam botol minyak cumi menggunakan pipet skala 0,1 ml, kemudian menebarkan ke atas permukaan air pemeliaharaan larva. Cara pemberian cumi dilakukan di sudut dan pertengahan bak hingga minyak cumi yag ada dalam pipet skala habis.

  1. B.     Pemberian chlorella

Bak penampungan chlorella diletakkan di atas bak pemeliharaan induk. Perlengkapan aerasi dimasukkan dalam bak penampungan disertai selang aerasi untuk mengalirkan chlorella ke bak pemeliharaan larva. Filter kapas dipasang pada ujung selang spiral dan ujung yang satunya dipasang pada pipa yang berasal dari bak chlorella. Setelah selang spiral terpasang, kran diputar dan chlorella mengalir ke bak penampungan hingga mencapai volume yang dibutuhkan. Selang aerasi yang telah dipasang tadi, dihisap dan chlorella yang berasal dari bak penampungan dialirkan ke bak pemeliharaan larva dengan system gravitasi.

  1. C.    Pemberian rotifer

Rotifer yang sudah dikayakan disaring kemudian dimasukkan ke dalam ember. Pemberian rotifer dilakukan secara hati- hati dengan menggunakan gayung kemudian ditebar merata ke dalam bak pemeliharaan.

  1. D.    Pemberian artemia

Artemia yang sudah dikayakan disaring kemudian dimasukkan ke dalam ember. Pemberian artemia dilakukan secara hati- hati dengan menggunakan gayung kemudian ditebar merata ke dalam bak pemeliharaan.

  1. E.     Pemberian pakan buatan

Pakan buatan love larva dimsukkan ke dalam botol pakan. Pemberian pakan buatan dilakukan dengan cara botol pakan disemprotkan ke permukaan air bak pemeliharaan. Pada fase benih diberikan pakan pellet yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya dengan cara menebar ke dalam bak pemaliharaan.

  1. 2.      Pengelolaan kualitas air
    1. A.    Penyiponan dan pergantian air

Ujung pipa sipon yang dimasukkan ke dalam air pemeliharaan diberi kapas sebagai pembersih dasar bak dan ujung satunya disambung dengan selang sipon. Selang sipon dihisap agar air kotor dalam bak pemeliaharaan keluar. Penyiponan dilakukan dengan menggerakkan pipa sipon secara perlahan- lahan ke dasar bak yang terdapat kotoran.

Air dalam bak pemeliaharaan dibuang sekitar 20% dari volume air dengan cara pipa pengeluaran dicabut. Setelah dilakukan pembuangan air, pompa celup disambung pada selang spiral untuk mengalikan air dari bak treatment air yang sudah disterilkan. Pompa celup dioperasikan untuk mengalirkan air laut steril ke bak pemliharaan yang akan diganti airnya.

  1. B.     Pengukuran parameter kualitas air

Unuk mengukur salinitas air, digunakan handrafraktometer. Cara mengunakan alat tersebut yaitu handrafraktometer dibilas dengan aquades dan dikeringkan dengan tissue kemudian dinetralkan. Air sampel diambil dari bak pemeliharaan larva sebanyak 1 tetes dan dimasukkan ke alat tersebut dan dilihat berapa angka yang ditunjukkan. Untuk mengukur suhu diperlukan thermometer yang digantung diatas permukaan air, sehingga setiap saat nilai suhu dapat dilihat. Untuk mengukur pH air digunakan pH meter, sedangkan untuk mengukur oksigen terlarut diperlukan DOmeter yang masing- masing alat tersebut dapat dicelupkan ke dalam air bak pemeliharaan dan nilainya langsung. Tertera di layar alat tersebut.

  1. 3.      Pengamatan laju pertumbuhan
  2. A.       Grading

Larva ikan kerapu yang digrading, ditangkap ddengan menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam baskom da diberi aerasi. Dalam bskom tersebut digrading  antara larva ukuran kecil, sedang dan besar dipisahkan pada baskom yang berbeda dengan menggunakan potongan botol air   mineral dan gayung. Larva yang sudah digrading, dimasukkan kedalam bak peneliharaan baru sesuai dengan ukurannya yaitu satu tempat utuk ukuran kecil, satu tempat untuk ukuran sedang dan demikian pula untuk ukuran yang besar.

  1. B.       Perhitungan laju pertumbuhan

Untuk menghitung laju pertumbuhan dapat dilakukan dengan menggunakan 5 ekor benih ikan kerapu sebagai sampel. Pengukuran panjang, dilakukan dengan mengukur mulai ujung mulut sampai ujung ekor serta lebar mulai dari sirip punggung sampai bagian bawah perut dengan menggunakan mistar. Penentuan berat dilakukan dengan menimbang sampel menggunakan timbangan analitik.

  1. C.       Pemindahan benih

Grading dilakukan sebelum larva dipindahkan.setelah melaewati proses grading maka Larva  dipindahkan ke dalam baskom yang berisi air laut steril dengan menggunakan seser. Baskom yang sudah diisi larva kemudian dipindahkan dan ditebar ke bak pendederan secara perlahan- lahan.

  1. D.       Pengendalian penyakit

Benih yang sakit ditangkap dengan menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam baskom yang berisi formalin, elbazin dan air tawar. Benih yang terkena jamur atau protozoa direndam dengan larutan formalin 10 ppm dan air tawar selama 10 menit. Sedangkan benih kerapu yang berlendir direndam dengan larutan elbazin 5 ppm selama 10 menit. Benih ikan yang sudah direndam dimasukkan kedalam bak penyembuhan atau bak karantina yang telah diisi dengan air laut steril.

3.3.4.      Panen Dan Pengepakan

Hasil akhir dari suatu produksi yaitu panen.Benih yang akan dipanen ditangkap Dengan menggunakan seser kemudian dimasukkan ke dalam tudung saji untuk dihitung. Kantong benih diletakkan dalam baskom kemudian diisi dengan air laut steril. Benih yang sudah dihitung dimasukkan kedalam kantong benih dengan kepadatan 100 ek/ kantong (disesuaikan dengan ukuran ikan dan lama pengakutan) dan diberi oksigen dengan perbandingan oksigen dan air 1 : 3. Kantong benih diikat dengan karet gelang dan dimasukkan kedalam sterofoam. Kotak sterofoam diberi es batu disekitar kantong benih kemudian diisolasi dan ditutup rapat serta diberi label. Kotak sterofoam yang sudah ditutup rapat siap dikirim pada konsumen.

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur Penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT , Sang maha agung yang telah memberikan setitik ilmuNya serta nikmat yang tak terhingga sehingga penulis diberikan ruang dan waktu untuk menyelesaikan proposal tugas akhir ini. Serta shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada baginda nabih MUHAMMAD SWA atas contoh teladanya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal tugas akhir dengn judul “ Teknik Pemeliharaan Larva Kerapu (Epinephelus sp).

            Penulisan proposal tugas akhir ini merupakan sebuah fase-fase terakhir dalamprosesi pendididkan diperguruan tinggi ,guna meraih gelar ahli madya perikanan pada program studi Budidaya Perikanan ,Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.Ucapan terimakasih kepada orang Tuaku ibunda  Fatiman yang senantiasa member dukungan secara materi,semangat dan doa selama penulis memulai pendidikan hingga selesai.

Penulis yakin sepenuhnya bahwa proposal tugas akhir ini tidak akan mungkin dapat terwujud tanpa bantuan dann dukungan dari semua pihak karenanya penulis ingin mengucapakan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

  1. Bapak Ir. Andi Asdar Jaya,M.Si Selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri Pangkep
  2. Bapak Ir. Rimal hamal,M.P. Selaku Ketua Jurusan Budidaya Perikanan
  3. Bapak Ir. Dam Surya Massora,M.Si Dan Ir. Hj. Ratnasari Haruna,M.P. Selaku Dosen Pembimbing Yang telah membimbing penulis Sehingga dapat menyelesaikn Proposal Tugas akhir.

Dan penulis juga mengucapakan banyak terimakasih kepada rekan-rekan yang banyak memberikan motivasi bagi penulis sehingga dapat menyelesaiakn proposal tugas akhir ini.

                                                                              Mandalle 08 maret 2013

                                                                                                      Penulis