Posted: Maret 15, 2013 in Uncategorized

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 . Latar Belakang
Budidaya ikan air laut merupakan sektor perikanan yang sangat
penting untuk dikembangkan dalam rangka penyediaan protein untuk
peningkatan gizi masyarakat, mencerdaskan bangsa dan menciptakan
lapangan kerja, (Patasik, 2005). Salah satu komoditas air laut yang memiliki
potensi untuk dibudidayakan adalah ikan kerapu Tikus.
Dengan garis pantai terpanjang di dunia yaitu 81.000 km dan luas
laut yang mencapai 5,8 juta km2, menjadikan Indonesia memiliki potensi
yang sangat besar dalam sumberdaya kelautan, terutama sektor perikanan.
Salah satu komoditi laut yang potensial untuk dikembangkan di indonesia
adalah Ikan Kerapu (coral reef fishes).
Ikan Kerapu merupakan ikan laut yang hidup di terumbu karang dan
memiliki harga jual yang relatif tinggi yaitu mencapai US$ 20 (Rp 200.000,-)
untuk setiap kilogramnya. Tingginya harga jual tersebut menyebabkan
eksploitasi sumberdaya kerapu yang tidak terkendali serta membahayakan
ekosistem perairan khususnya terumbu karang. Untuk menghindarkan
terjadinya kepunahan terhadap populasi ikan kerapu di alam, maka upaya
mengalihkan usaha penangkapan ke usaha budidaya kerapu di air payau
merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan.
Salah satu komoditas perikanan yaitu Ikan Kerapu umumnya
dikenal dengan istilah “groupers” dan merupakan salah satu komoditas
perikanan yang mempunyai peluang baik dipasarkan domestik maupun padar
internasional dan selain itu nilai jualnya cukup tinggi. Eksport ikan kerapu
melaju pesat sebesar 4.800 ton pada tahun 2006 dengan nilai 31,7 US Dollar
(Sudirman dan Karim, 2008).
Ikan Kerapu mempunyai sifat-sifat yang menguntungkan untuk
dibudidayakan karena pertumbuhannya cepat dan dapat diproduksi massal
untuk melayani permintaan pasar ikan kerapu dalam keadaan hidup.
2
Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera
konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah
mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu
melalui usaha budidaya.
Budidaya ikan kerapu telah dilakukan dibeberapa tempat di
Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala,
karena keterbatasan benih. Selama ini para petani nelayan masih
mengandalkan benih alam yang sifatnya musiman. Namun sejak tahun 1993
ikan kerapu macan sudah dapat dibenihkan melalui pembenihan buatan
manipulasi lingkungan dan penggunaan hormon.
1.2 . Tujuan dan Kegunaan
Kegiatan PKPM ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
teknik pembenihan Ikan Kerapu macan dengan cara terjun langsung di
lapangan agar dapat menghasilkan benih yang unggul dan berkualitas. Serta
dapat membandingkan antara hasil yang didapatkan di lapangan dengan teori
yang didapatkan sebelumnya.
Sedangkan Kegunaan dari kegiatan yang akan dilakukan dalam
PKPM ini adalah dapat menambah wawasan dan sebagai bahan informasi
serta acuan dalam usaha pembenihan Ikan Kerapu Tikus. Dimana kedepannya,
pengetahuan yang didapatkan tersebut dapat dijadikan motivasi untuk
melakukan usaha pembenihan ikan kerapu Tikus sendiri, agar kedepannya
dapat bermunculan wirausahawan yang terampil dan bergelut dalam usaha
pembenihan ikan kerapu Tikus tersebut.
3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Taksonomi dan Morfologi
A. Taksonomi
Diperkirakan terdapat lebih dari 46 spesies ikan kerapu yang hidup
di laut. Spesies- spesies tersebut berasal dari 7 genus yang berbeda, salah satu
spesies yang terkenal adalah ikan kerapu tikus (Chromileptes altivelis).
Menurut Heemstra and Ramdal, (1993) Ikan kerapu tikus C. digolongkan pada
:
Phylum : Chordata
Class : Pisces
Ordo : Percomorphi
Famili : Serranidae
Genus : Cromileptes
Spesies : Cromileptes altivelis
B. Morfologi
Sedangkan Menurut akbar (2009), Ikan kerapu tikus adalah jenis
ikan karang yang hanya hidup dan tumbuh cepat di daerah tropis, Ciri khasnya
terletak pada bentuk moncong yang menyerupai bebek sehingga disebut kerapu
bebek. Sisik dan sirip kerapu berbentuk bulat. Bagian punggunnya meninggi
dan cembung. Tebal tubuh ikan yang habitat aslinya di sela-sela karang laut ini
2,6-3,0 inci Standar (SL). Ciri-ciri lainnya adalah tidak mempunyai gigi taring
(canine), lubang hidung besar berbentuk bulat sabit vertikal, warna kulit abuabu
terang kehijauan dengan bintik-bintik hitam, moncongnya mirip kepala
bebek, kerapu ini sering di sebut dengan kerapu tikus.
Menurut akbar (2002) menyebutkan bentuk tubuh bagian punggung
meninggi dengan bentuk cembung (Concaver). Ketebalan tubuh sekitar 6,6 –
7,6 cm dari panjang spesifik sedangkan panjang tubuh maksimal sampai 70 cm.
Ikan ini tidak mempunyai gigi canine (gigi yang terdapat dalam geraham ikan)
4
lubang hidung hidung besar berbentuk bulan sabit dertical, kulit berwarna
terang abu-abu kehijauan dengan bintik-bintik hitam diseluruh kepala, badan
dan sirip. Pada kerapu bebek muda, bintik hitamnya lebih besar dan sedikit.
Kerapu tikus mempunyai sisik berbentuk sikloid, deskripsi sirip
punggung (dorsal fin) X, 17-18. Sirip dubur (anal fin) III, 10, sirip dada
(fectoral fin) 17-18, sirip ekor membulat, sisik garis linea lateralis 53-55,
bagian dorsal meninggi berbentuk concave (cembung), lubang hidung besar
berbentuk bulat sabit vertikal, warna kulit terang abu-abu kehijauan dengan
bintik-bintik hitam disekitar kepala, badan dan sirip. Ridwan dan Jayadi.
(2009). Gambar 1
Gambar 1. Ikan kerapu tikus C.
2.2 Habitat dan Penyebaran
Gitari (1995), dalam siklus hidup ikan kerapu tikus, ikan ini adalah
ikan yang mudah hidup di perairan karang dengan kedalaman 0,5 – 3 meter,
setelah menginjak dewasa keperairan yang lebih dalam antara 7 – 40 meter.
Telur dan larva bersifat pelagis sedangkan kerapu mudah hingga dewasa
bersifat demersal. Sedangkan Tampubolon dan Mulyadi (1989), menyatakan
habitat larva dan kerapu muda adalah perairan pantai dekat muara sungai
dengan dasar pasir berkarang yang banyak ditumbuhi padang lamun. Salah
satu indikator adanya kerapu adalah perairan karang. Ikan kerapu memiliki
toleransi yang cukup tinggi terhadap lingkungan karena dapat di budidayakan
5
pada lingkungan tambak dengan pertumbuhan yang relatif cepat (Anindiastuti
dkk.,1999)
Katayama (dalam Utami, 1997) penyebaran ikan kerapu tikus
meliputi perairan laut merah sampai perairan Filifina, tahiti, kepulauan
Okawa, dan Perairan Jepang Selatan. Sedangkan menurut Tanin dkk (1987),
penyebaran ikan kerapu meliputi daerah tropis dan sub tropis. Lebih lanjut
dinyatakan bahwa di indonesia ikan kerapu banyak di temukan di perairan
pulau sumatra, jawa, sulawesi. Pulau buruh dan ambon.
Salah satu indicator adanya ikan Kerapu adalah perairan karang,
sehingga Indonesia memiliki perairan karang yang cukup luas, yang
menunjukkan potensi sumber daya dan pengembangan Kerapu sangat besar
(Sudirman dan Karim, 2008).
2.3 Cara Makan dan Jenis Makanan
Ikan kerapu tikus C. merupakan hewan karnivora yang memangsa
ikan-ikan kecil, kepiting, dan udang-udangan. ikan kerapu tikus C. bersifat
karnifora dan cenderung menangkap/memansa yang aktif bergerak di dalam
kolam air (Nybakken, 1988 Cit. Anonim, 2001). Kerapu tikus juga cenderung
bersifat kanibal, namun sifat kanibal ikan kerapu tikus tidak seperti jenis ikan
kerapu lainnya dikarenakan lebar bukaan mulut kerapu tikus lebih kecil
(cholik, dkk 2005).
Ikan kerapu tikus C. mencari makan hingga menyergap mangsa dari
tempat persembunyiannya (Anonim,2001) dengan cara memakan satu per satu
makanan yang diberikan sebelum makanan tersebut sampai ke dasar (Anonim,
1996 ).
6
2.4. Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi untuk budidaya ikan ini memegang peranan yang
santa penting. Permilihan lokasi yang tepat akan mendukung kesinambungan
usaha dan target produksi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih lokasi untuk
budidaya ikan kerapu adalah faktor resiko seperti keadaan angin dan
gelombang, kedalaman perairan, bebas dari bahan pencemar, tidak
mengganggu alur pelayaran.
Faktor kenyamanan seperti dekat dengan prasarana perhubungan
darat, pelelangan ikan (sumber pakan), dan pemasok sarana dan prasarana yang
diperlukan (listrik, telepon), dan faktor hidrografi seperti selain harus jernih,
bebas dari bahan pencemaran dan bebas dari arus balik, dan perairannya harus
memiliki sifat fisik dan kimia tertentu (kadar garam, oksigen terlarut).
2.5 Pemeliharaan Induk
Induk ikan kerapu yang dipijahkan dipelihara di laut dalam kurungan
apung dengan padat penebaran induk 7,5 – 10 kg/m3. Pakan yang diberikan
berupaikan rucah segar berkadar lemak rendah. Diluar pemijahan ikan, dosis
pakan yang diberikan sebesar 3 – 5% dari total berat badan ikan/hari,
sedangkan pada musim pemijahan diturunkan menjadi 1%. Disamping itu
diberikan pula vitamin E dengan dosis 10 – 15 mg/ekor/minggu.
2.6 Sex Reversal
Kerapu termasuk ikan yang “hermaprodit protogyni”, yaitu pada
kehidupan awal belum ditentukan jenis kelaminnya. Sel kelamin betina
terbentuk setelah berumur 2 tahun dengan panjang 50 cm dan berat 5 kg. Sel
kelamin betina berubah menjadi sel kelamin jantan pada umur 4 tahun dengan
panjang tubuh sekitar 70 cm dan berat 11 kg. Ada kenyataannya lebih banyak
ditemui ikan kerapu jantan atau mempercepat perubahan kelamin dari betina ke
jantan dapat dipacu/dirangsang dengan hormon testosteron.
7
Pemberian hormon testosteron dilakukan secara oral melalui makan
setiap minggu, diikuti dengan penambahan multivitamin.
Dosis yang diberikan adalah :
• Hormon testosteron 2 mg/kg induk
• Multivitamin 10 mg/kg induk
2.7 Seleksi Induk
Kematangan kelamin induk jantan ikan kerapu diketahui dengan cara
mengurut bagian perut ikan (stripping) ke arah awal sperma yang keluar
warnan putih susu dan jumlahnya banyak diamati untuk menentukan
kualitasnya. Kematangannya kelamin induk betina diketahui dengan cara
kanulasi, yaitu memasukkan selang plastik ke dalam lubang kelamin ikan,
kemudian dihisap. Telur yang diperoleh diamati untuk mengetahui tingkat
kematangannya, garis tengah (diameter) telor diatas 450 mikron.
2.8 Siklus Reproduksi dan Perkembangan Gonad
Ikan kerapu tikus ini bersifat hermaprodit protogini, yakni pada tahap
perkembangan mencapai dewasa (matang gonad) berjenis kelamin betina
kemudian berubah menjadi jantansetelah tumbuh besar /umurnya bertambah
tua. Menentukan jenis kelamin jatan dan betina dapat di lakukan dengan dua
cara yaitu menggunakan selang mikro (kanulasi) dan menggunakan metode
pengurutan.
Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat
hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin, dan ukuran
(Smith, 1982. dalam Subyakto S. Dan Cahyaningsih S. 2003). Di habitat
aslinya, kerapu melakukan pemijahan pada malam hari, yakni antara pukul 8
malam hingga 3 pagi. Biasanya, kerapu jantan akan berenang berputar-putar
mengikuti kerapu betina. Setelah kerapu betina mengeluarkan telurnya,
kerapu jantan akan mengeluarkan spermanya kemudian telur akan di buah
oleh sperma. Fenomena perubahan jenis kelamin pada kerapu sangat erat
8
hubungannya dengan aktivitas pemijahan, umur, indeks kelamin dan ukuran
(Smith. 1982).
2.9 Perkembangan dan Pemeliharaan Larva
1) Perkembangan Larva
Larva yang baru menetas terlihat transparan, melayang-melayang
dan gerakannya tidak aktif serta tampak kuning telur dan oil globulenya. Larva
akan berubah bentuk menyerupai kerapu dewasa setelah berumur 31 hari.
Gambar 2.
Gambar 2. Perkembangan Bentuk Larva Ikan Kerapu
Adapun perkembangan larva kerapu dari umur 1 hari (D1) sampai umur 31
hari (D31) dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perkembangan larva ikan kerapu.
Hari ke Tahap Perkembangan Panjang (mm)
D1 Larva baru menetas transparan, melayang dan tidak aktif. 1,89 – 2,11
D3 Timbul bintik hitam di kepala dan pangkal perut. 2,14 – 2,44
9
D7-8 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 7,98 – 8,96
D9-11 Timbul calon sirip punggung yang keras dan panjang. 15,88 – 17,24
D15-17 Duri memutih, bagian ujung agak kehitaman. 17,2 – 18,6
D23-26 Sebagian duri mengalami reformasi dan patah, pada bagian
ujung tumbuh sirip awal lunak.
20,31 – 22,64
D29-31 Sebagian larva yang pertumbuhannya capat telah berubah
menjadi burayak (juvenil), bentuk dan warnanya telah
menyerupai ikan dewasa.
22,40 – 23,42
Masa kritis kedua dijumpai pada waktu larva berumur 8 hari (D8)
memasuki umur 9 hari (D9), dimana pada saat itu mulai terjadi perubahan
bentuk tubuhyang sangat panjang dan spesifik, sampai pada hari ke 20 (D20)
larva berkembang dengan baik dan belum menunjukkan adanya tanda-tanda
kematian, akan tetapi memasuki hari ke 22 (D22), 23 (D23) sebagian dari larva
baik yan masih kecil maupun yang sudah besar mulai nampak adanya
kematian. Diawali dengan adanya gerakan memutar (whirling) yang tidak
terkendali kemudian terbalik lalu mati.
Pada kasus tersebut diupayakan dengan cara merubah pakan Artemia
dengan kandungan W3 HUFA yang lebih tingi. Dari kasus ini tentunya dapat
diajukan suatu hepotesa sementara bahwa kurannya unsur tertentu pada larva
kerapu dalam waktu yang cukup lama akan mempengaruhi kondisi fisik dan
kelangsungan hidup larva.
2) Pemeliharaan Larva
Larva kerapu yang baru menetas mempunyai cadangan makanan
berupa kuning telur. Pakan ini akan dimanfaatkan sampai hari ke 2 (D2)
setelahmenetas dan selama kurun waktu tersebut larva tidak memerlukan dari
luar.
Umur 3 hari (D3) kuning telur mulai terserap habis, perlu segera
diberi pakan dari luar berupa Rotifera Brachionus Plicatilis dengan kepadatan 1
– 3 ekor/ml. Disamping itu ditambahkan pula Phytoplankton chlorella sp
10
dengan kepadatan antara 5.10 – 10 sel/ml. Pemberian pakan ini sampai larva
berumur 16 hari (D16) dengan penambahan secara bertahap hingga mencapai
kepadatan 5 – 10 ekor/ml plytoplankton 10 – 2.10 sel/ml media.
Pada hari kesembilan (D9) mulai diberi pakan naupli artemia yang
baru menetas dengan kepadatan 0,25 – 0,75 ekor/ml media. Pemberian pakan
naupli artemia ini dilakukan sampai larva berumur 25 hari (D25) dengan
peningkatan kepadatan hingga mencapai 2 – 5 ekor/ml media.
Disamping itu pada hari ke tujuh belas (D17) larva mulai diberi
pakan Artemia yang telah berumur 1 hari, kemudian secara bertahap pakan
yang diberikan diubah dari Artemia umur 1 hari ke Artemia setengah dewasa
dan akhirnya dewasa sampai larva berumur 50 hari. Pemberian pakan dengan
cincangan daging ikan mulai dicoba pada saat metamorfosa larva sempurna
menjadi benih ikan kerapu.
2.10 Pengelolaan Kualitas Air
Bak penetasan telur yang sekaligus merupakan bak pemeliharaan
larva perlu dijaga kualitas airnya dengan penambahan phytoplankton Chlorella,
dengankepadatan 5.103 – 104 sel/ml. Phytoplankton akan menggeliminir
pembusukkan yang ditimbulkan oleh telur yang tidak menetas dan sisa
cangkang telur yang ditinggalkan. Pembersihan dasar bak dengan cara
penyiponan dilakukan pada hari pertama dengan maksud untuk membuang
sisa-sisa telur yang tidak menetas dan cangkang telur. Penggantian air
dilaksanakan pertama kali pada saat larva berumur 6 hari (D6) yaitu sebanyak
5 – 10%. Penggantian air dilakukan setiap hari dan dengan bertambahnya umur
larva, maka volume air yang perlu diganti juga semakin banyak. Pada saat
larva telah berumur 30 hari (D30) pengganti air dilakukan sebanyak 20% dan
bila larva telah berumur 40 hari (D40) air yang diganti sebanyak 40%.
11
2.11 Hama dan Penyakit
Hama
Menurut Kordi, (2002) mengatakan bahwa hama merupakan
organisme yang dapat menimbulkan gangguan pada ikan budidaya di dalam
kolam hama pada budidaya ikan kerapu C. ada 2 macam yaitu : predator dan
kompetitor.
Penyakit
Penyakit yang sering di menyerang ikan kerapu ada dua macam
yaitu penyakit infeksi, penyakit yang dapat menginfeksi ikan kerapu yaitu
berupa jamur, bakteri maupun virus. Sedangkan yang ke dua yaitu penyakit
non infeksi adalah penyakit pada ikan kerapu yang di sebabkan oleh ketidak
sesuaian media pemeliharaan ikan kerapu yang ada di tambak dengan kondisi
aslinya di alam sehingga menyabakan ikan kerapu tersebut stress.
12
BAB III
METODE PELAKSANAAN
3.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) ini, akan
dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar. Kegiatan tersebut
akan dilaksanakan dari bulan Maret – Juni 2011.
3.2. Metode Pengumpulan data
Metode pengambilan data yang digunakan dalam Kegiatan
Pengalaman Kerja Praktek Mahasiswa (PKPM) yang akan dilaksanakan yaitu
dengan cara pengumpulan data berupa :
1. Data primer yaitu diperoleh dengan cara melaksanakan dan mengikuti
kegiatan Teknik Pembenihan Kerapu Macan secara langsung serta ikut
berperan aktif di lapangan.
2. Data sekunder yaitu diperoleh melalui studi pustaka dengan cara
mengumpulkan data dari berbagai literatur dan melakukan wawancara
dengan pembimbing dan teknisi lapangan.
3.3. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif yang
bersumber pada data primer dan data sekunder yang didapatkan selama
kegiatan PKPM berlangsung dan disajikan dalam bentuk tabel.
3.4. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada pembenihan Kerapu tikus D. di Balai
Besar Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar dapat dilihat pada Tabel 2,
sedangkan bahan yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.
13
Tabel 2. Alat untuk Pembenihan Ikan Kerapu Macan
No Alat Jumlah Kegunaan
1 Baskom plastic 10 buah Grading
2 Pisau 2 buah Memotong- motong pakan
induk
3 Ember 10 buah Menampung pakan alami
4 Gayung 5 buah Mengambil pakan
5 Timbangan 2 buah Menimbang pakan, kaporit dan
berat induk
6 Selang spiral 3 buah Mengalirkan air laut dan tawar
7 Filter bag 5 buah Menyaring air laut
8 Seser 4 buah Menangkap larva
9 Blower 2 unit System pengudaraan
10 Bak beton 29 buah Wadah pemeliharaan dan
pemijahan induk, penetasan dan
pemeliharaan larva, pendederan
benih, penampungan air laut
11 Pompa 2 unit Penyuplai air laut
12 Tower Penampungan air tawar
13 Kantong Benih Sesuai
permintaan
Kantong panen
14 Sterofoam Sesuai
permintaan
Pengemasan benih
15 Alat-alat
laboratorium
Sesuai
pemakaian
Kultur murni chlorella
16 Handrafraktometer 1 buah Mengukur kualitas
14
17 Thermometer 3 buah Mengukur suhu
18 DOmeter 1 buah Mengukur kandungan oksigen
terlarut
19 pHmeter 1 buah Mengukur pH
Tabel 3. Bahan-bahan untuk Pembenihan kerapu macan
No Bahan Jumlah Kegunaan
1 Induk ikan kerapu Jantan 5 ekor
Betina 13 ekor
Organisme yang
dipraktekkan
2 Pakan induk
• Ikan rucah
• Cumi
• 50 kg
• 20 kg
Makanan bagi induk
3 Pakan larva
• Chlorella
• Rotifer
• Artemia
• Buatan

Makanan bagi larva
4 Kaporit – Treatment air, membersihkan
bak
5 Tiosulfat – Menetralkan bau kaporit
6 • Pupuk kandang
• Urea
• ZA
• TSP

Pupuk yang menumbuhkan
chlorella
7 • Scoot’s emulsion
• Vitamin C1000
• Prefuran
• RDN Ultra Algae

Pengkayaan pakan
15
8 • Enervon C
• Natur E

Vitamin dan pemangan
gonad induk
3.5. Prosedur Kerja
3.5.1. Persiapan wadah
Bak beton yang akan digunakan dibersihkan terlebih dahulu dengan
larutan zeolit acid kemudian menggosok dengan menggunakan sikat, baik
dibagian dasar bak maupun dindingnya. Demikian pula dengan bak
penampungan plankton dan bak kultur pakan alami dibersihkan seperti pada
bak beton. Perlengkapan aerasi direndam didalam larutan zeolit acid dan
menggosok dengan menggunakan spon. Bak yang sudah digosok kemudian
dibilas dengan air laut steril hingga bersih, begitupula dengan peralatan aerasi
yang sudah digosok juga dibilas hingga bersih.
Bak beton dan peralatan aerasi disiram dengan larutan kaporit dan
diratakan dengan menggunakan sapu karet dibagian dasar bak, bak dan
peralatan aerasi yang sudah dibilas kemudian dikeringkan hingga bau
kaporitnya hilang kemudian dinetralkan dengan larutan tiosulfat. Perlengkapan
aerasi dipasang dan bak tersebut diisi dengan air media steril dengn
menggunakan fiber bag sebanyak 80% dari volume bak yang dialirkan dari bk
treatmet air kemudian diaerasi keras.
3.5.2. Pengelolaan induk
A. Pemeliharaan induk
Induk betina dan induk jantan dipelihara di bak terpisah. Induk
diberikan pakan pakan berupa ikan rucah (tembang dan ciko – ciko ) pada pagi
dan sore hari sesuai dengan dosis yang telah ditentukan. Setelah pemberian
pakan, dilakukan pergantian air dengan cara membuka saluran pembuangan
dan mengoperasikan pompa air laut agar air dapat mengalir kedalam bak
pemeliharaan. Jika air dalam bak sudah diganti, pompa air laut dimatikan dan
pompa resirkulasi dioperasikan agar air dalam bak induk tersirkulasi.
16
B. Pematangan gonad induk
Pakan yang akan diberikan kepada induk, dibersihkan terlebih
dahulu kemudian Vitamin Nature E dan vitamin Enervon C yang berupa
kapsul, dimasukkan kebagian tubuh pakan. Pakan yang telah diberi vitamin,
diterbar kebak pemeliharaan.
C. Pengelolaan Kualitas Air Induk
Air di bak pemeliharaan dibuang dengan cara membuka pipa
pengeluaran yang berada dibagian tengah bak. Bagian dasar bak pemeliharaan
disipon dengan cara alat sipon yang terbuat dari sikat dan tangaki besi didorong
dari sisi bak ke bagian tengah bak, dimana terdapat saluran pembuangan.
Setelah bak pemeliharaan selesai disipon, air bak diganti dengan air baru.
Untuk menjaga air bak tetap bersih dan dapat terganti hingga 200- 300% setiap
harinya, pompa sirkulasi dioperasikan agar air dalam bak pemeliharaan
tersirkulasi selama 24 jam.
D. Pengelolaan Pakan Induk
Pakan yang baru dibeli berupa ikan rucah (tembang dan ciko – ciko)
dan cumi- cumi ditempatkan ke dalam baskom. Pakan ikan rucah dibersihkan
dan dihilangkan bagian kepalanya dan isi perutnya, sedangkan cumi- cumi
dihilangkan tintanya. Pakan yang sudah dibersihkan, dimasukkan kedalam
kantong pakan yang terbuat dari saringan hijau. Pakan yang sudah dikemas
tersebut dimasukkan ke dalam freezer. Pemberian pakan dilakukan setiapa hari
dengan frekuensi pemberian satu kali sehari yaitu pada pagi atau sore hari
dengan dosis 3- 5% dari berat badan ikan.
E. Pemijahan
• Induk kerapu matang kelamin dipindahkan ke bak pemijahan yang
sebelumnya telah diisi air laut bersih dengan ketingian 1,5 m dan
salinitas + 32 ‰.
17
• Manipulasi lingkungan dilakukan menjelang bulan gelap yaitu dengan
cara menaikkan dan menurunkan permukaan/tinggi air setiap hari.
Mulai jam 09.00 sampai jam 14.00 permukaan air diturunkan sampai
kedalaman 40cm dari dasar bak. Setelah jam 14.00 permukaan air
dikembangkan ke possisi semula (tinggi air 1,5 m). Perlakuan ini
dilakukan terus menerus sampai induk memijah secara alami.
• Rangsangan hormonal induk kerapu matang kelamin disuntik
denganhormon Human Chorionic Gonadotropin (HGG) dan
Puberogen untuk merangsang terjadinya pemijahan. Takaran hormon
yang diberikan adalah : HGG 1.000 – 2.000 IU/kg induk dan
Puberogen 150 – 225 RU/kg induk
• Pengamatan pemijahan ikan dilakukan setiap hari setelah senja sampai
malam hari. Pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara
jam22.00 – 24.00 WIB. Diduga musim pemijahannya terjadi 2 kali
bulan Juni – September dan bulan Nopember – Januari.
• Bila diketahui telah terjadi pemijahan, telur segera dipanen dan
dipindahkan ke bak penetasan.bak pemeliharaan larva.
F. Penetasan Telur
Bak yang dipergunakan untuk penetasan telur sekaligus juga
merupakan bak pemeliharaan larva, terbuat dari beton, berbentuk empat
persegi panjang dengan ukuran 4 x 1 x 1 m3. Tiga hari sebelum bak
penetasan/bak pemeliharaan larva digunakan, perlu dipersiapkan dahulu
dengan cara dibersihkan dan dicuci hamakan memakai larutan chlorine (Na
OCI) 50 – 100 ppm. Setelah itu dinetralkan dengan penambahan larutan
Natrium thiosulfat sampai bau yang ditimbulkan oleh chlorine hilang. Air laut
dengan kadar garam 32 ‰ dimasukkan ke dalam bak, satu hari sebelum larva
dimasukkan dengan maksud agar suhu badan stabil berkisar antara 27 – 280C.
Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir.
Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna jernih
(transparan). Sebelum telur ditetaskan perlu direndam dalam larutan 1 – 5 ppm
18
acriflavin untuk mencegah serang bakteri. Padat penebaran telur di Bak
Penetasan berkisar 20 – 60 butir/liter air media. Ke dalam bak penetasan perlu
ditambahkan Chlorella sp sebanyak 50.000 – 100.000 sel/ml untuk menjaga
kualitas air. Telur akan menetas dalam waktu 18 – 22 jam setelah pemijahan
pada suhu 27 – 280C dan kadar garam 30 – 32 ‰.
G. Pengendalian Penyakit
Bak fiber yang akan digunakan untuk penyembuhan, diisi dengan air
laut steril hingga penuh dan diberi aerasi. Induk yang luka dipisahkan dari
induk yang sehat, kemudian induk tersebut diobati dengan cara menempelkan
bubuk elbazin pada bagian tubuh yang luka. Induk yang sudah diobati,
dipelihara dalam bak penyembuhan hingga lukanya benar- benar sembuh.
H. Seleksi Induk Matang Gonad
Induk jantan dan betina ditangkap dengan menggunakan saringan
hijau. Untuk mengetahui induk yang matang gonad, dilakukan dengan cara
stripping (bagian perut induk diurut ke arah anus). Jika terdapat cairan putih
pada jantan yang jumlahnya cukup banyak, sedangkan induk betina dikanulasi.
Induk yang matang gonad dipisahkan untuk dipijahkan dengan system
manipulasi lingkungan.
3.5.3. Pemijahan Alami Sistem Manipulasi Lingkungan
Induk kerapu tikus D. yang matang gonad dimasukkan ke dalam
bak pemijahan yang telah disiapkan sebelumnya dengan sex ratio 1: 2. Pada
siang hari dilakukan penjemuran yaitu menurunkan volume air bak sehingga
volume air bak tersisa 20% dari volume bak dan pada sore hari menjelang
malam, air dinaikkan atau ditambah sehingga volume air mencapai 80% dari
volume bak. Pemberian pakan tetap dilakukan pada pagi hari. Kolektor telur
dipasang dikotak panen dengan cara diikat pada bagian pipa pengeluaran telur.
19
3.5.4. Penyiapan Pakan Alami untuk Larva
– Kultur Chlorella
Persiapan untuk kultur Chlorella adalah mencuci bak dengan sikat
kemudian dibilas hingga bersih dan dikeringkan selama 2 jam. Setelah itu diisi
dengan air sebanyak 8 ton (8000 liter) dan diberi kaporit yang berfungsi untuk
treatment air dan air dibiarkan selama 12 jam. Setelah ditreatment selama 12
jam, bibit Chlorella sp dimasukan sebanyak 1-2 ton dengan menggnakan
pompa celup. Bibit tersebut berasal dari bak lain yang telah berumur 7-8 hari.
Kemudian dilakukan pemupukan dengan cara dilarutkan dalam ember. Dosis
pupuk yang digunakan adalah urea 40 ppm. ZA 30 ppm, SP-36 20 ppm, FeCl3
1-3 ppm dan EDTA 1-3 ppm.
– Kultur Rotifera (Branchionus plicatilis)
Ukuran akuarium yang dapat digunakan sebagai wadah
pemeliharaan adalah 60 x 40 x 50 cm, sedangkan fiberglass yang biasa dipakai
adalah yang berukuran hingga 1 ton. Wadah dicuci bersih dan dikeringkan di
bawah terik matahari.Akuarium diisi dengan air kolam dan volume air yang
dimasukkan dihitung. Hal ini diperlukan untuk memperkirakan jumlah pupuk
yang akan digunakan. Pupuk yang digunakan adalah kotoran ayam atau
kotoran kuda dengan dosis 300-400 g/liter air. Pemberian pupuk dilakukan
dengan jalan membungkus pupuk tersebut dalam kain, kemudian digantung
hingga seluruh pupuk terendam air. Setelah tujuh hari, kondisi air media sudah
siap sitebari bibit rotifer. Panen dapat dilakukan pada minggu berikutnya ketika
populasi rotifera mencapai puncak. Pemanenan dilakukan dengan
menggunakan planktonnet dengan cara menciduk langsung atau melaluio
penyifonan. Kepadatan populasi akan bisa dipertahankan tetap tinggi selama
satu bulan apabila setiap 5-6 hari dilakukan pemupukan ulang sebanyak
separuh dosis pupuk awal.
20
– Kultur artemia salina
Penetasan artemia yang baik yaitu dengan penetasan dekapsulasi.
Dekapsulai adalah proses penipisan cangkang telur luar kista dengan
menngunakan larutan clorin. Proses dekapsulai adalah kista dicuci dengan air
dan dimasukan dalam ember, kemudian dimasukan larutan clorin sebanyak 500
ml dan diaduk hingga berubah warna menjadi orange. Suhu saat dekapsulasi
dipertahankan <>oC. Lama dekapsulasi 5-15 menit, setelah itu kista disaring
dan dicuci bersih dengan air lalu diberi tiosulfat agar menetralkan clorin. Kista
artemia siap dikultur di bak yang diisi dengan air dan aerasi selama 12-24 jam.
3.5.5. Penetasan Telur
A. Inkubasi dan perhitungan telur
Telur kerapu dimasukkan kedalam bak inkubasi. Masukkan garam
ke dalam bak inkubasi yang sudah berisi telur. Telu diinkubasi selama satu
jam. Telur ikan kerapu yang sedang diinkubasi, diambil dengan menggunakan
gelas piala sebagai sampel. Telur- telur tersebut dihitung dengan cara telur
diambil piala dengan menggunakan pipet tetes dan dihitung hingga sampel
telur dalam gelas habis. Telur yang dihitung adalah berapa jumlah telur yang
berwarna transparan dan terapung serta berapa jumlah telur ynag berwarna
putih pucat dan tenggelam. Untuk mengetahui persentase telur yang terbuahi
dan telur yang tidak terbuahi dapat dihitung dengan rumus berikut :
SRe= Jumlah telur yang terbuahi X 100%
Jumlah telur yang ditebar
Keterangan :
SRe = Tingkat kelangsungan hidup embrio
Setelah dilakukan perhitungan telur, aerasi diangkat agar air dalam
bak inkubasi menjadi tenang. Air yang tenang akan menyebabkan telur yang
tidak terbuahi tenggelam dan mengendap di dasar bak, sedangkan telur yang
terbuahi terapung dipermukaan air. Telur yang mengendap dan terkumpul di
21
dasar bak dibuang dengan cara membuka kran pembuangan. Telur yang
terapung ditebar di bak penetasan telur.
B. Penebaran dan penetasan telur
Seser yang digunakan untuk menebar telur diletakkan diatas ember
yang berisi air laut. Telur diambil di bak inkubasi dengan menggunakan
gayung kemudian dimasukkan ke dalam seser tadi. Seser yang berisi telur
diangkat dan ditebar ke dalam penetasan sekaligus bak pemeliharaan larva
nantinya. Daya tetas telur (HR) dapat dihitunh dengan rumus berikut :
HR= Jumlah telur yang menetas X 100%
Jumlah telur yang ditebar
Keterangan :
HR = Daya tetas telur (Hatching Rate)
3.5.5. Pemeliharaan Larva
1. Pengelolaan Pakan
A. Pemberian minyak cumi
Minyak cumi yang diberikan dengan cara memipet dari dalam
botol minyak cumi menggunakan pipet skala 0,1 ml, kemudian
menebarkan ke atas permukaan air pemeliaharaan larva. Cara pemberian
cumi dilakukan di sudut dan pertengahan bak hingga minyak cumi yag ada
dalam pipet skala habis.
B. Pemberian chlorella
Bak penampungan chlorella diletakkan di atas bak pemeliharaan
induk. Perlengkapan aerasi dimasukkan dalam bak penampungan disertai
selang aerasi untuk mengalirkan chlorella ke bak pemeliharaan larva. Filter
kapas dipasang pada ujung selang spiral dan ujung yang satunya dipasang
pada pipa yang berasal dari bak chlorella. Setelah selang spiral terpasang,
22
kran diputar dan chlorella mengalir ke bak penampungan hingga mencapai
volume yang dibutuhkan. Selang aerasi yang telah dipasang tadi, dihisap
dan chlorella yang berasal dari bak penampungan dialirkan ke bak
pemeliharaan larva dengan system gravitasi.
C. Pemberian rotifer
Rotifer yang sudah dikayakan disaring kemudian dimasukkan ke
dalam ember. Pemberian rotifer dilakukan secara hati- hati dengan
menggunakan gayung kemudian ditebar merata ke dalam bak
pemeliharaan.
D. Pemberian artemia
Artemia yang sudah dikayakan disaring kemudian dimasukkan
ke dalam ember. Pemberian artemia dilakukan secara hati- hati dengan
menggunakan gayung kemudian ditebar merata ke dalam bak
pemeliharaan.
E. Pemberian pakan buatan
Pakan buatan love larva dimsukkan ke dalam botol pakan.
Pemberian pakan buatan dilakukan dengan cara botol pakan disemprotkan
ke permukaan air bak pemeliharaan. Pada fase benih diberikan pakan
pellet yang sesuai dengan ukuran bukaan mulutnya dengan cara menebar
ke dalam bak pemaliharaan.
2. Pengelolaan kualitas air
A. Penyiponan dan pergantian air
Ujung pipa sipon yang dimasukkan ke dalam air pemeliharaan
diberi kapas sebagai pembersih dasar bak dan ujung satunya disambung
dengan selang sipon. Selang sipon dihisap agar air kotor dalam bak
23
pemeliaharaan keluar. Penyiponan dilakukan dengan menggerakkan pipa
sipon secara perlahan- lahan ke dasar bak yang terdapat kotoran.
Air dalam bak pemeliaharaan dibuang sekitar 20% dari volume
air dengan cara pipa pengeluaran dicabut. Setelah dilakukan pembuangan
air, pompa celup disambung pada selang spiral untuk mengalikan air dari
bak treatment air yang sudah disterilkan. Pompa celup dioperasikan untuk
mengalirkan air laut steril ke bak pemliharaan yang akan diganti airnya.
B. Pengukuran parameter kualitas air
Unuk mengukur salinitas air, digunakan handrafraktometer.
Cara mengunakan alat tersebut yaitu handrafraktometer dibilas dengan
aquades dan dikeringkan dengan tissue kemudian dinetralkan. Air sampel
diambil dari bak pemeliharaan larva sebanyak 1 tetes dan dimasukkan ke
alat tersebut dan dilihat berapa angka yang ditunjukkan. Untuk mengukur
suhu diperlukan thermometer yang digantung diatas permukaan air,
sehingga setiap saat nilai suhu dapat dilihat. Untuk mengukur pH air
digunakan pH meter, sedangkan untuk mengukur oksigen terlarut
diperlukan DOmeter yang masing- masing alat tersebut dapat dicelupkan
ke dalam air bak pemeliharaan dan nilainya langsung. Tertera di layar alat
tersebut.
3. Pengamatan laju pertumbuhan
A. Grading
Larva ikan kerapu yang digrading, ditangkap ddengan
menggunakan seser dan dimasukkan ke dalam baskom da diberi aerasi.
Dalam bskom tersebut digrading antara larva ukuran kecil, sedang dan
besar dipisahkan pada baskom yang berbeda dengan menggunakan
potongan botol air mineral dan gayung. Larva yang sudah digrading,
dimasukkan kedalam bak peneliharaan baru sesuai dengan ukurannya yaitu
satu tempat utuk ukuran kecil, satu tempat untuk ukuran sedang dan
demikian pula untuk ukuran yang besar.
24
B. Perhitungan laju pertumbuhan
Untuk menghitung laju pertumbuhan dapat dilakukan dengan
menggunakan 5 ekor benih ikan kerapu sebagai sampel. Pengukuran
panjang, dilakukan dengan mengukur mulai ujung mulut sampai ujung
ekor serta lebar mulai dari sirip punggung sampai bagian bawah perut
dengan menggunakan mistar. Penentuan berat dilakukan dengan
menimbang sampel menggunakan timbangan analitik.
C. Pemindahan benih
Sebelumdipindahkan larva terlebih dahulu digrading. Larva
ynag sudah degrading dipindahkan ke dalam baskom yang berisi air laut
steril dengan menggunakan seser. Baskom yang sudah diisi larva
kemudian dipindahkan dan ditebar ke bak pendederan secara perlahanlahan.
D. Pengendalian penyakit
Benih yang sakit ditangkap dengan menggunakan seser dan
dimasukkan ke dalam baskom yang berisi formalin, elbazin dan air tawar.
Benih yang terkena jamur atau protozoa direndam dengan larutan formalin
10 ppm dan air tawar selama 10 menit. Sedangkan benih kerapu yang
berlendir direndam dengan larutan elbazin 5 ppm selama 10 menit. Benih
ikan yang sudah direndam dimasukkan kedalam bak penyembuhan atau
bak karantina yang telah diisi dengan air laut steril.
3.5.7 Panen dan Pengepakan
Benih yang akan dipanen ditangkap engan menggunakan seser
kemudian dimasukkan ke dalam tudung saji untuk dihitung. Kantong benih
diletakkan dalam baskom kemudian diisi dengan air laut steril. Benih yang
sudah dihitung dimasukkan kedalam kantong benih dengan kepadatan 100
25
ek/ kantong (disesuaikan dengan ukuran ikan dan lama pengakutan) dan
diberi oksigen dengan perbandingan oksigen dan air 1 : 3. Kantong benih
diikat dengan karet gelang dan dimasukkan kedalam sterofoam. Kotak
sterofoam diberi es batu disekitar kantong benih kemudian diisolasi dan
ditutup rapat serta diberi label. Kotak sterofoam yang sudah ditutup rapat
siap dikirim pada konsumen.
26
DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. dan Sudaryanto. 2001. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek.
Penebar Swadaya. Jakarta. 104 hal
Anonim, 2001, Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. PT Agromedia
Pustaka, Depok.
Gitari ,1995, “Taksonomi & Morfologi Ikan Kerapu Tikus”, Bandung
Heamstra dan Ramdall 1993, Pembenihan Ikan Kerapu , Jakarta.
Ir. Ridwan, M.P. dan Dr. Ir. Jayadi, M.P. 2009. Teknik Pembenihan dan
Pembesaran Ikan Kerapu (Grouper)
Kordi, 2001. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Banatjipta. Bandung.
Nybakken 1988, Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kerapu Bebek. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Sudirman, “ Ikan Kerapu : Biologi, Exploitasi, da Budidayanya “, Buletin
Budidaya, 1979
Suyoto, P.; Mustahal.2001. Pembenihan Ikan Laut Ekonomis: Kerapu,Kakap,
Beronang. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tampu Bolon dan Mulyadi, “Pemijahan Alami Ikan Kerapu Macan
(Epinephelus fuscoguttatus) di Bak Terkontrol”, Buletin Budidaya,
1989.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s